Mahasiswa Pontianak Gugat Standar Gender yang Membunuh Potensi
- 16 Jul 2026 18:56 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Stereotip gender yang kaku dipengaruhi oleh pola pikir purba manusia 350 ribu tahun lalu, namun gender merupakan peran sosial yang dapat diubah seperti software dalam gawai.
- Stigma sosial yang ketat merugikan baik kaum perempuan maupun laki-laki, termasuk tekanan pada laki-laki untuk selalu tampil tangguh dan dilarang mengekspresikan emosi serta melakukan pekerjaan domestik.
- Perlawanan terhadap stereotip harus dimulai dari lingkungan terdekat melalui berani mempertanyakan lelucon seksis dan mendorong korban ketidaksetaraan untuk speak up tanpa menpendam perasaan tersakiti.
RRI.CO.ID, Pontianak - Ratusan ribu tahun evolusi peradaban manusia ternyata masih menyisakan pola pikir konservatif yang kerap membelenggu potensi laki-laki dan perempuan di era modern. Berangkat dari keresahan tersebut, dua mahasiswa IAIN Pontianak yang tergabung dalam Borne Legal Club (BLC), Jaini dan Raskiraya, mengajak generasi muda untuk berani mendekonstruksi stereotip sosial dan mendobrak standar keliru terkait kesetaraan gender di tengah masyarakat.
Hal ini menjadi bahasan tajam dalam program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) bertajuk "Dekonstruksi Stereotip Sosial, Melawan Standar Keliru Terhadap Gender" yang dipandu oleh penyiar Erna di RRI Pro 2 Pontianak, Rabu, 15 Juli 2026.
Raskiraya, yang akrab disapa Raski, membuka sudut pandang yang unik dari kacamata neurosains dan sejarah manusia. Menurutnya, stereotip gender yang kaku saat ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan purba manusia 350 ribu tahun lalu, di mana laki-laki bertugas berburu di luar dan perempuan menetap di dalam gua.
"Selama lebih dari 340 ribu tahun, pola pikir itu terbentuk secara perlahan. Padahal, manusia baru mulai bertani dan menetap memproduksi makanannya sendiri sekitar 10 ribu tahun terakhir. Ibarat gawai, jenis kelamin kromosom adalah hardware (perangkat keras) yang mutlak, sedangkan gender itu software (perangkat lunak) atau peran sosial yang sangat bisa diubah dan bertukar," kata Raski menganalogikan.
Akibat pelabelan sosial yang kaku ini, banyak potensi anak muda yang terbunuh pelan-pelan. Raski mencontohkan masih adanya stigma aneh terhadap perempuan yang menyukai bidang otomotif atau bermain sepak bola, hingga minimnya keberanian mahasiswi untuk bersuara saat diskusi kelas karena merasa menjadi kaum minoritas di jurusan tertentu.
Selaras dengan pandangan itu, Jaini menilai stigma sosial yang kaku terbukti sama-sama merugikan kaum perempuan maupun laki-laki. Lingkungan kerap menekan kaum adam lewat tuntutan untuk selalu tampil tangguh memikul beban berat, mengharamkan sikap lembut, serta melarang mereka mengekspresikan emosi.
"Banyak laki-laki yang sebenarnya malu atau gengsi melakukan pekerjaan domestik dasar karena takut dinilai tidak maskulin. Padahal, urusan rumah tangga seperti mencuci piring, mengepel, atau memasak bukanlah mutlak kodrat perempuan, melainkan keterampilan bertahan hidup yang juga bisa dilakukan oleh laki-laki," ujar Jaini. Raski pun mengamini hal tersebut karena tumbuh di keluarga yang semuanya berjenis kelamin laki-laki, sehingga mau tidak mau pekerjaan domestik dikerjakan bersama.
Untuk memutus rantai stereotip ini, keduanya sepakat bahwa perlawanan harus dimulai dari lingkungan terdekat, yakni tongkrongan pertemanan. Raski menyarankan anak muda untuk berani mempertanyakan balik (speak up) jika ada teman yang melontarkan lelucon seksis atau merendahkan berkedok bercandaan.
Di akhir obrolan, Jaini berpesan agar korban ketidaksetaraan tidak lagi membiasakan diri untuk bungkam. "Jika ada ucapan atau pelabelan yang melukai hati, sampaikanlah dengan tegas. Jangan dipendam agar tidak jadi bom waktu. Dengan saling terbuka, saling menghargai, dan memperbanyak literasi pengetahuan, kita bisa mematahkan standar sosial yang mengekang kebebasan berekspresi ini," ucapnya.
Baca juga: Edukasi Gender Jadi Kunci Ciptakan Ruang Aman Generasi Muda
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....