Bahagia tanpa Keterikatan Menumbuhkan Ketenangan dalam Hidup
- 16 Jul 2026 10:08 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID Jakarta – Di tengah dinamika kehidupan yang penuh tantangan, banyak orang berupaya mencari kebahagiaan melalui berbagai pencapaian, mulai dari harta, jabatan, hingga pengakuan. Namun, ketenangan batin tidak selalu ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan juga oleh kemampuan seseorang dalam mengurangi rasa keterikatan terhadap hal-hal yang bersifat sementara.
Penyuluh Agama Buddha, Ingridsia Susana, menjelaskan bahwa keterikatan yang berlebihan terhadap keinginan, kepemilikan, maupun harapan dapat menjadi salah satu penyebab munculnya penderitaan. Ketika seseorang menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu yang mudah berubah, rasa kecewa akan lebih mudah muncul saat menghadapi kehilangan atau kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Menurutnya, ajaran Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan bersifat tidak kekal atau anicca. Dengan memahami hakikat tersebut, seseorang diharapkan mampu menerima setiap perubahan sebagai bagian dari proses kehidupan, sehingga tidak larut dalam kesedihan maupun kecemasan yang berkepanjangan.
Ia menambahkan bahwa mengurangi keterikatan bukan berarti mengabaikan tanggung jawab atau berhenti mencintai orang lain. Sebaliknya, setiap individu tetap dapat menjalani kehidupan, bekerja, dan membangun hubungan dengan penuh kasih sayang tanpa harus dikuasai oleh rasa memiliki yang berlebihan.
Lebih lanjut, ketenangan batin dapat dibangun melalui latihan pengendalian pikiran, pengembangan kebijaksanaan, serta meditasi. Praktik tersebut membantu seseorang memahami berbagai persoalan secara lebih jernih, sehingga mampu merespons setiap situasi dengan sikap yang lebih tenang dan bijaksana.
Ia juga menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada banyaknya hal yang dimiliki, tetapi pada kemampuan seseorang menerima perubahan dengan lapang dada. Sikap sederhana, penuh syukur, dan tidak mudah terikat pada hal-hal yang bersifat sementara menjadi bekal penting dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Melalui pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan dapat menjalani kehidupan dengan lebih seimbang, mengurangi keterikatan yang berlebihan, serta menumbuhkan ketenangan hati dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Dengan demikian, kebahagiaan tidak hanya menjadi tujuan, tetapi juga dapat dirasakan dalam setiap proses kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....