Bedah Buku "Enrique Maluku"; Generasi Muda Rebut Jejak Sejarah Maritim Nusantara
- 14 Jul 2026 18:59 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Kesadaran sejarah dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda sekaligus memperkuat semangat kebangsaan. Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Bedah Buku "Enrique Maluku" karya Helmy Yahya dan Reinhard Tawas yang dirangkaikan dengan Pagelaran Seni Budaya Maluku bertema "Menguatkan Semangat Kebangsaan", di Taman Budaya Maluku, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Inspirasi Anak Muda Maluku (IAMM) di bawah kepemimpinan Venesia Lesnussa itu dihadiri mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, akademisi, budayawan, serta pegiat literasi.
Forum tersebut mengangkat sejarah, kemaritiman, dan pembangunan Maluku sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif terhadap identitas bangsa.
Acara diawali dengan penampilan stand-up comedy Jhon Laratmase yang menghadirkan humor khas Maluku. Suasana kemudian semakin semarak melalui penampilan Sanggar Tamariska yang membawakan lagu Toma Maju, Pohon Sagu, dan Toki Gaba-Gaba diiringi petikan ukulele dan tarian tradisional, sebagai simbol kekayaan budaya yang tumbuh dari kehidupan masyarakat kepulauan.
Dalam sambutannya, Ketua IAMM Venesia Lesnussa menegaskan bahwa generasi Maluku harus terus diperkenalkan dengan sejarahnya sendiri agar tidak kehilangan identitas di tengah derasnya arus globalisasi.
"Cerita dan karya tentang Enrique Maluku adalah satu dari banyaknya cerita tentang kehebatan Maluku yang akan terus kita munculkan di kemudian hari. Generasi Maluku harus terus disuguhi literasi sejarahnya sendiri," tegas Venesia.
Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Karena itu, IAMM berkomitmen menghadirkan ruang-ruang literasi yang mengangkat tokoh, budaya, dan peradaban Maluku agar semakin dikenal oleh generasi muda.
Mengusung slogan "Dari Enrique Kita Belajar, dari Maluku Kita Menginspirasi", diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua ICM Kota Ambon Dr. A. Manaf Tubaka, M.Si., akademisi FISIP Universitas Pattimura Dr. M. Jen Latuconsina, S.IP., M.A., serta sejarawan dari Balai Sejarah Maluku Mezak Wakim, S.Pd., M.Si.
Dr. Jen Latuconsina menjelaskan bahwa sejarah pelayaran dunia selama ini lebih banyak didominasi narasi bangsa-bangsa besar seperti Tiongkok, Arab, Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris.
Padahal, menurutnya, Maluku merupakan pusat rempah-rempah dunia yang menjadi alasan utama bangsa-bangsa tersebut datang ke Nusantara.
Ia menguraikan bahwa sosok Enrique diyakini berasal dari Maluku dan menjadi bagian penting dalam ekspedisi Ferdinand Magellan setelah ditawan ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Dengan kecerdasan berbahasa dan pemahamannya terhadap kawasan Nusantara, Enrique memiliki posisi strategis dalam pelayaran yang kemudian dikenal sebagai ekspedisi pertama mengelilingi dunia.
Jen juga mengingatkan bahwa cengkih dan pala Maluku telah menjadi komoditas paling bernilai sejak ribuan tahun lalu. Jejak rempah Maluku ditemukan dalam proses pengawetan mumi Mesir hingga peradaban Mesopotamia sekitar 3000 SM, membuktikan bahwa Maluku telah menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan global jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Sementara itu, sejarawan Mezak Wakim menilai buku Enrique Maluku berhasil membuka perspektif baru mengenai sejarah pelayaran dunia. Berdasarkan penelitian dan kesaksian para penyintas kapal Victoria, ia menyebut terdapat argumentasi yang menguatkan bahwa Enrique berasal dari Maluku, sekaligus membantah klaim yang menyebut tokoh tersebut berasal dari Filipina.
Menurut Mezak, buku tersebut tidak hanya menampilkan Enrique sebagai penerjemah dalam ekspedisi Magellan, tetapi juga sebagai diplomat ulung yang memiliki ketangguhan mental, kemampuan membangun komunikasi lintas budaya, serta menjadi penghubung penting dalam perjalanan maritim dunia.
Ia menegaskan bahwa Maluku harus kembali ditempatkan sebagai pusat sejarah maritim dunia. Tantangan terbesar saat ini, katanya, adalah meningkatnya "amnesia sejarah" akibat dominasi budaya populer serta rendahnya minat generasi muda membaca arsip sejarah.
Karena itu, ia mendorong lahirnya gerakan digitalisasi sejarah melalui komik digital, podcast, film animasi, video kreatif, hingga gim edukatif agar kisah Enrique dan kejayaan rempah Maluku dapat dipahami generasi digital. Di sisi lain, pelestarian bahasa daerah, tradisi sasi, pela gandong, dan budaya bahari juga harus menjadi bagian dari penguatan identitas masyarakat Maluku.
Ketua ICM Kota Ambon, Dr. A. Manaf Tubaka, menambahkan bahwa sejarah Enrique memiliki makna pragmatis sekaligus filosofis dalam membangun Indonesia.
Menurutnya, kejayaan Maluku lahir karena posisinya sebagai pusat perdagangan rempah dunia, ketika nilai cengkih bahkan disejajarkan dengan emas.
Ia menilai sejarah Maluku mengajarkan bahwa keberagaman tidak menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun persatuan.
"Buku Enrique Maluku memperlihatkan bahwa sejak berabad-abad lalu Maluku menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa dan budaya. Sejarah itu harus menjadi inspirasi membangun masa depan, bukan menjadi sumber perpecahan," ujarnya.
Dalam sesi bedah buku juga ditegaskan bahwa semangat kemaritiman harus diterjemahkan ke dalam pembangunan Maluku sebagai provinsi kepulauan melalui penguatan konektivitas antarpulau, pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia maritim, perlindungan ekosistem pesisir, serta pengembangan pelabuhan dan pusat logistik sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.
Para narasumber sepakat bahwa perjuangan menjadikan Maluku sebagai provinsi kepulauan bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan pembangunan yang sesuai dengan karakter geografis wilayah.
Bedah buku ini akhirnya melahirkan satu pesan utama: kejayaan Maluku pada masa lalu tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah.
Warisan maritim, jalur rempah, dan kisah Enrique harus menjadi inspirasi untuk membangun Maluku yang maju dan berdaya saing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....