Guru Besar Matheus Souisa Soroti Budaya Siaga Bencana Maluku
- 26 Mei 2026 19:51 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Guru Besar Bidang Keahlian Fisika Bumi (Geofisika) dan Kebencanaan Prof. Dr. Ir. Matheus Souisa, M.Si menilai wilayah Maluku memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena berada pada kawasan pertemuan lempeng aktif dan didominasi wilayah kepulauan. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Kentongan yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026 melalui sambungan telepon.
Menurutnya, kondisi geografis Maluku membuat masyarakat perlu mewaspadai berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, hingga cuaca ekstrem. Ia menjelaskan bahwa aktivitas tektonik di wilayah Maluku tergolong aktif sehingga kesiapsiagaan masyarakat harus terus diperkuat dari waktu ke waktu.
Ia mengatakan budaya sadar bencana masih sangat penting dibangun meskipun masyarakat Maluku telah lama hidup berdampingan dengan alam. Menurutnya, pengalaman hidup di daerah rawan bencana belum tentu membuat masyarakat memahami langkah penyelamatan yang tepat saat situasi darurat terjadi. Karena itu, edukasi kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak panik dan mampu bertindak cepat ketika bencana datang.
Dalam dialog tersebut, Prof. Matheus Souisa, juga menekankan pentingnya membangun budaya tangguh bencana mulai dari lingkungan keluarga dan sekolah. Anak-anak dinilai perlu dikenalkan sejak dini tentang jalur evakuasi, titik kumpul aman, hingga cara menyelamatkan diri saat gempa bumi maupun tsunami. Sekolah juga diharapkan rutin melaksanakan simulasi kebencanaan agar kesiapsiagaan menjadi kebiasaan sehari-hari.
Selain itu, Ia menilai edukasi kebencanaan berbasis lokal dan kearifan budaya Maluku sangat penting dalam upaya mitigasi bencana. Nilai gotong royong, solidaritas masyarakat, dan pengetahuan lokal dinilai dapat menjadi kekuatan sosial dalam menghadapi situasi darurat. Pendekatan berbasis budaya dianggap lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh masyarakat di berbagai daerah di Maluku.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menghindari kesalahan umum saat menghadapi gempa bumi maupun tsunami, seperti panik berlebihan, kembali mengambil barang di rumah, serta mudah percaya informasi yang belum jelas sumbernya. Menurutnya, di era digital masyarakat harus lebih bijak memilah informasi dan hanya mengikuti informasi resmi dari pemerintah maupun lembaga kebencanaan agar tidak terpengaruh hoaks.
Di akhir dialog, Prof. Dr. Ir. Matheus Souisa, M.Si berharap seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, kampus, media, komunitas, hingga generasi muda dapat bekerja sama membangun budaya siaga bencana secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh muncul hanya saat terjadi bencana, tetapi harus menjadi bagian dari pola hidup masyarakat Maluku demi menciptakan daerah yang lebih tangguh dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana di masa depan.
Prof Matheus Souisa Soroti Budaya Siaga Bencana Maluku
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....