Hakikat Makna dan Keutamaan Tawakal dalam Kehidupan

  • 13 Jul 2026 06:10 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Kehidupan masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang semakin kompleks. Ketidakpastian ekonomi, persaingan dunia kerja yang semakin ketat, tingginya biaya hidup, perubahan sosial yang begitu cepat, hingga derasnya arus informasi di media digital, menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis banyak orang.

Tidak sedikit masyarakat yang mengaku mudah merasa cemas, khawatir berlebihan, bahkan kehilangan ketenangan ketika menghadapi persoalan hidup yang datang silih berganti. Dalam program Mutiara Pagi, Senin, 13 Juli 2026, dengan tema "Hakikat Makna dan Keutamaan Tawakal dalam Kehidupan", Pimpinan Pesantren dan Panti Asuhan Mitra Arafah Surabaya, Hj. Haniah menjelaskan bagaimana makna tawakal berdasarkan Al-Qur'an dan hadis, sekaligus bagaimana penerapannya dalam kehidupan masyarakat modern yang penuh tantangan.

"Dalam situasi seperti ini, banyak orang terus berusaha mencari jalan keluar melalui berbagai cara. Namun, tidak sedikit pula yang akhirnya merasa putus asa ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan. Sebagian bahkan mulai mempertanyakan mengapa doa-doa yang dipanjatkan belum juga dikabulkan atau mengapa ujian hidup terus datang silih berganti. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana menyikapi usaha, harapan, dan ketetapan Tuhan secara seimbang," ujarnya menjelaskan.

Dikatakan Ustazah Haniah, fenomena tersebut juga terlihat dari meningkatnya kebiasaan masyarakat membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain melalui media sosial. Keberhasilan yang ditampilkan di ruang digital sering kali memunculkan rasa tidak percaya diri, iri hati, hingga kekhawatiran tidak mampu memenuhi standar kehidupan yang dianggap ideal. Di sisi lain, tekanan pekerjaan, tuntutan keluarga, persoalan pendidikan anak, hingga kondisi kesehatan semakin menambah beban pikiran yang harus dihadapi setiap hari.

Di kalangan umat Islam, salah satu nilai yang diyakini mampu menjadi penopang ketenangan jiwa adalah tawakal. Namun demikian, pemahaman mengenai tawakal masih sering disalahartikan. Ada yang menganggap tawakal berarti menyerahkan seluruh persoalan kepada Allah tanpa perlu bekerja keras. Sebaliknya, ada pula yang terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri sehingga melupakan pentingnya berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar.

"Padahal, ajaran Islam menempatkan tawakal sebagai perpaduan antara usaha yang maksimal, doa yang sungguh-sungguh, serta keyakinan bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik tempat bergantung. Sikap tawakal bukanlah bentuk kelemahan ataupun kepasrahan tanpa tindakan, melainkan wujud keimanan yang melahirkan ketenangan hati dalam menerima segala ketentuan Allah, baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan keinginan manusia," ujarnya.

Kesalahpahaman terhadap makna tawakal, dikatakan Ustadzah Haniah, dapat berdampak pada cara seseorang mengambil keputusan dalam kehidupan. Ada yang mudah menyerah sebelum berusaha, sementara yang lain justru mengalami tekanan mental karena merasa seluruh keberhasilan sepenuhnya bergantung pada kemampuan dirinya. Akibatnya, ketika mengalami kegagalan, mereka lebih mudah mengalami stres, kecewa, bahkan kehilangan semangat untuk bangkit kembali.

"Padahal pemahaman mengenai hakikat tawakal tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, pekerjaan, keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat. Tawakal mampu membentuk pribadi yang optimistis, sabar, tangguh menghadapi ujian, serta tidak mudah larut dalam kecemasan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali manusia," katanya.

Untuk itu, Ustadzah Haniah berharap agar kita semuanya bisa memiliki pemahaman yang utuh bahwa tawakal bukanlah alasan untuk bermalas-malasan ataupun berhenti berusaha. Sebaliknya, tawakal merupakan kekuatan spiritual yang mendorong seseorang bekerja keras, berikhtiar secara maksimal, terus berdoa, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan. Dengan demikian, setiap keberhasilan akan melahirkan rasa syukur, sementara setiap kegagalan dapat diterima sebagai pelajaran untuk bangkit dan berusaha lebih baik.

"Sebab, di tengah berbagai tekanan dan ketidakpastian zaman, pemahaman yang benar tentang tawakal, dapat menjadi salah satu bekal penting dalam membangun ketenangan batin, ketahanan mental, dan optimisme untuk menjalani kehidupan dengan penuh harapan serta kepercayaan kepada Allah SWT," ujarnya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....