Pemerhati Budaya Singkil Menilai Pimpinan Ponpes Darur Rasyid Pemikir Kreatif

  • 12 Jul 2026 07:16 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Singkil - Pemerhati budaya Aceh Singkil, Wanhar Lingga, S.Pd, menilai kepemimpinan Pimpinan Pondok Pesantren Darur Rasyid, Dr. Ust. Andika Novriadi Cibro, M.Ag, memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan pengelolaan pesantren pada umumnya.

Menurutnya, keberanian mengintegrasikan pendidikan Islam dengan seni dan budaya daerah menjadi ciri khas yang membuat Darur Rasyid semakin dikenal masyarakat.

Dalam keterangannya, Wanhar menyebut gaya kepemimpinan Ust. Andika sebagai "out of the box", karena dinilai menghadirkan konsep pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguatan ilmu keislaman, tetapi juga memberikan ruang bagi pelestarian budaya lokal.

"Saya menyebut kepemimpinan Ust. Andika sebagai out of the box, sebab cara berpikir dan langkah yang diambil berbeda dari kebanyakan pengelola pesantren,"sebut Wanhar, Sabtu, 11 Juli 2026.

Wanhar Lingga, Pemerhati Budaya Aceh Singkil mengenakan pakaian adat Singkil saat kegiatan festival Desa Budaya di Desa Tanjung Mas, Simpang Kanan, Aceh Singkil, foto : RRI/Salihin Barus

Dirinya menilai pimpinan pondok pesantren Darur Rasyid, Silatong, Simpang Kanan, Aceh Singkil itu membawa pesantren menjadi ruang pendidikan Islam yang tetap terbuka terhadap pengembangan seni dan budaya daerah.

Hal tersebut dapat disimpulkan Wanhar, setelah mengamati berbagai program dan pernyataan yang disampaikan Ust. Andika dalam sejumlah kesempatan, termasuk slogan Pondok Pesantren Darur Rasyid, "Bersatu dalam Karya, Bersinergi dengan Budaya.

Dr. Andika Cibro, Pimpinan Pondok Pesantren Darurrasyid Silatong, Simpang Kanan, Aceh Singkil, foto : Dok Ponpes Darurrasyid/Dok untuk RRI

Kemudian Wanhar menambahkan slogan tersebut merupakan langkah yang cukup berani mengingat sebagian masyarakat masih memandang pesantren hanya sebagai lembaga yang berfokus pada pendidikan agama tanpa bersentuhan dengan sektor seni dan kebudayaan.

"Beliau justru meyakini bahwa seni dan budaya dapat menjadi media dakwah sekaligus membangun semangat, kreativitas, dan kepercayaan diri para santri tanpa mengurangi nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pendidikan pesantren," katanya.

Seperti tegas Wanhar, melalui penyelenggaraan Pentas Seni Santri yang secara rutin digelar setiap tahun dan selalu mendapat sambutan antusias dari masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, para santri menampilkan pertunjukan seni yang dikemas dengan konsep teatrikal dan edukatif. Serta salah satu penampilan yang menurutnya meninggalkan kesan mendalam adalah adaptasi lagu daerah yang sempat viral di Aceh Singkil dan Kota Subulussalam berjudul "Bunga" atau yang dikenal masyarakat sebagai lagu Pukak Mbue.

Lebih lanjut Wanhar mengatakan, lagu yang awalnya mengisahkan perjuangan seorang pria untuk membahagiakan perempuan yang dicintainya diubah menjadi kisah perjuangan seorang ayah yang bekerja keras demi menyekolahkan putrinya di pesantren. Perubahan alur cerita dan lirik tersebut dipadukan dengan drama panggung yang menyentuh emosi penonton.

"Yang saya apresiasi, sebelum mengadaptasi karya tersebut beliau terlebih dahulu meminta izin kepada kami dan menjelaskan tujuan penggunaannya sebagai media pendidikan, hal tersebut menunjukkan penghargaan terhadap karya seni sekaligus komitmen menjaga etika," ungkapnya.

Selain mengangkat karya-karya populer masyarakat, Wanhar mengatakan Pondok Pesantren Darur Rasyid juga secara konsisten menampilkan berbagai kesenian tradisional Aceh Singkil, seperti Tari Biahat, Ambe-Ambe, kreasi Dampeng, hingga tradisi Mempule Jawi dan adat bertutur, yang dikemas dalam berbagai pertunjukan santri.

Tidak hanya budaya lokal Aceh Singki, lanjutnya, Darur Rasyid juga memberikan ruang bagi pengenalan seni budaya dari berbagai daerah di Indonesia melalui kegiatan Pentas Seni, Apel Tahunan dan momentum agenda besar lainnya.

Menurut Wanhar, pendekatan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat keberadaan Pondok Pesantren Darur Rasyid semakin dikenal dan diminati masyarakat.

"Ketika masyarakat melihat pesantren mampu menjaga nilai-nilai agama sekaligus melestarikan budaya daerah, muncul kepercayaan bahwa pendidikan di pesantren juga mampu membentuk santri yang kreatif, berkarakter, dan mencintai identitas budayanya," ujarnya.

Di akhir keterangannya, Wanhar menilai kepemimpinan Ust. Andika tidak hanya ditunjukkan melalui inovasi program, tetapi juga melalui kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.

Banyak gagasan yang lahir melalui diskusi bersama tokoh masyarakat, budayawan, akademisi, dan berbagai elemen lainnya, dari diskusi kecil itulah kemudian lahir program-program yang dirancang secara matang dan memberikan dampak positif bagi pesantren maupun masyarakat," tutup Wanhar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....