Psikolog Jelaskan Faktor Gen Z Mudah Tergiur Pinjol

  • 10 Jul 2026 04:41 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kemudahan mengakses pinjaman online atau pinjol melalui telepon genggam membuat layanan ini semakin diminati, termasuk oleh Generasi Z. Proses pencairan dana yang cepat dan persyaratan yang relatif sederhana kerap menjadi alasan utama sebagian anak muda memilih pinjaman online untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa ketertarikan Gen Z terhadap pinjol tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh aspek psikologis, lingkungan sosial, dan perkembangan teknologi digital.

“Generasi Z tumbuh di era yang serba cepat. Ketika ada kebutuhan atau keinginan, mereka terbiasa melihat solusi yang instan, termasuk dalam hal memperoleh dana,” ujarnya, kemarin.

Menurut Andi, salah satu faktor yang membuat Gen Z mudah tergiur pinjol adalah keinginan memperoleh kepuasan secara cepat atau instant gratification. Kemudahan pencairan dana membuat sebagian orang kurang mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari keputusan tersebut.

“Ketika seseorang lebih fokus pada manfaat yang dirasakan saat ini daripada risiko di masa depan, keputusan finansial bisa menjadi kurang matang,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengaruh media sosial juga berperan dalam membentuk gaya hidup konsumtif. Paparan terhadap konten mengenai tren, perjalanan, fesyen, atau gaya hidup tertentu dapat menimbulkan keinginan untuk mengikuti tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan.

“Keinginan untuk tidak merasa tertinggal atau fear of missing out (FOMO) dapat mendorong seseorang mengambil keputusan yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansialnya,” tambah Andi.

Selain itu, Andi menilai rendahnya literasi keuangan menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan. Sebagian generasi muda belum memahami secara menyeluruh mengenai bunga, biaya layanan, kewajiban pembayaran, maupun risiko jika terlambat melunasi pinjaman.

“Tidak sedikit yang hanya melihat proses pencairannya mudah, tetapi belum memahami tanggung jawab yang akan dihadapi setelah dana diterima,” katanya.

Menurutnya, tekanan sosial juga dapat memengaruhi keputusan seseorang menggunakan pinjol. Keinginan untuk tampil setara dengan lingkungan atau memenuhi standar gaya hidup tertentu terkadang membuat individu mengambil jalan pintas melalui pinjaman.

Dari sisi psikologis, penggunaan pinjol tanpa perencanaan dapat memicu stres, kecemasan, rasa bersalah, hingga tekanan emosional ketika menghadapi kewajiban pembayaran.

“Ketika utang mulai menumpuk, seseorang bisa kehilangan ketenangan karena terus memikirkan cara melunasi kewajibannya,” ujar Andi.

Untuk menghindari kondisi tersebut, ia menyarankan Gen Z membiasakan diri membuat perencanaan keuangan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menunda keputusan finansial yang bersifat impulsif.

“Biasakan bertanya pada diri sendiri, apakah ini benar-benar kebutuhan atau hanya keinginan sesaat. Pertanyaan sederhana itu bisa membantu mengambil keputusan yang lebih bijak,” tegasnya.

Andi juga mengajak orang tua, sekolah, dan perguruan tinggi untuk meningkatkan edukasi mengenai literasi finansial sejak dini agar generasi muda memiliki bekal dalam mengelola keuangan secara bertanggung jawab.

“Literasi finansial dan kemampuan mengendalikan diri adalah kunci agar generasi muda tidak mudah tergoda oleh kemudahan yang ditawarkan layanan pinjaman digital,” sebutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....