5 Aksi Sederhana Masyarakat yang Bisa Memberi Dampak Besar bagi Negeri
- 08 Jul 2026 14:14 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Dr. Nyoman Suwartha menekankan bahwa perubahan besar Indonesia tidak memerlukan program pemerintah berskala besar, melainkan aksi sederhana yang konsisten dari masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
- Masyarakat perlu mengubah budaya ketergantungan pada pemerintah dan menyadari bahwa setiap individu adalah agen perubahan yang mampu berkontribusi sesuai kemampuannya.
- Dampak perubahan akan jauh lebih besar ketika aksi individu dilakukan secara kolektif dalam komunitas, dengan menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi modal sosial kuat Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Perubahan besar bagi Indonesia tidak selalu harus diawali melalui program berskala besar dari pemerintah. Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Indonesia sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Pusaka Indonesia, Dr. Nyoman Suwartha, mengajak masyarakat mulai berkontribusi melalui aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Nyoman Suwartha saat menjadi narasumber dalam program siaran radio Obrolan Komunitas di 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta bertajuk Langkah Kecil, Dampak Besar: Aksi Nyata untuk Negeri yang disiarkan pada Selasa, 7 Juli 2026. Menurutnya, perubahan sosial akan lebih cepat terwujud apabila masyarakat tidak hanya menunggu kebijakan pemerintah, tetapi juga mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.
Ia menilai setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menciptakan perubahan. Dampak besar tidak selalu ditentukan oleh ukuran sebuah program, melainkan oleh konsistensi tindakan yang dilakukan secara bersama-sama.
"Ini tentunya bagian dari kontribusi kami, bagaimana bisa melakukan aksi nyata. Walaupun kecil, nanti juga bisa berdampak bagi lingkungan, bagi institusi, bahkan bagi negeri ke depannya," ujar Nyoman.

Berikut lima aksi sederhana yang dinilai mampu memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.
1. Memulai perubahan dari lingkungan sekitar
Nyoman mengatakan perubahan tidak harus dimulai dari proyek besar maupun kebijakan pemerintah. Justru berbagai tindakan sederhana yang dilakukan di lingkungan terdekat mampu menjadi awal lahirnya perubahan yang lebih luas.
Menjaga kebersihan lingkungan, menghemat penggunaan listrik dan air, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga aktif dalam kegiatan sosial merupakan contoh aksi sederhana yang dapat dilakukan siapa saja. Ketika kebiasaan tersebut diterapkan secara konsisten, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.
Menurutnya, banyak persoalan sosial maupun lingkungan dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk mulai bertindak tanpa harus menunggu instruksi dari pihak lain.
2. Mengubah budaya menunggu pemerintah
Nyoman menilai salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan adalah masih kuatnya budaya ketergantungan terhadap pemerintah. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat memilih menunggu adanya program resmi dibanding mengambil inisiatif sendiri.
"Karena memang ini semacam kebiasaan yang menjadi budaya ketergantungan. Apa-apa kita tergantung dari pemerintah. Kalau seolah-olah tidak ada program, ya kita menunggu," ucap Nyoman.
Ia menegaskan pemerintah memang memiliki peran penting sebagai penyusun kebijakan dan penyedia fasilitas pembangunan. Namun, keberhasilan pembangunan nasional tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah tanpa dukungan masyarakat.
Menurut Nyoman, perubahan akan berlangsung lebih cepat apabila masyarakat memiliki kesadaran bahwa setiap individu juga merupakan pelaku pembangunan.

3. Menyadari bahwa setiap orang bisa menjadi agen perubahan
Nyoman mengatakan masih banyak masyarakat yang memandang pemerintah sebagai satu-satunya aktor yang mampu menciptakan perubahan. Cara pandang tersebut membuat berbagai peluang untuk berkontribusi belum dimanfaatkan secara optimal.
| Baca juga: Kaum Muda Sebarkan Virus Cinta Lingkungan |
"Karena terbiasa seperti itu dan melihat bahwa pemerintah sebagai aktor utama perubahan. Padahal sebenarnya siapa pun bisa," kata Nyoman.
Ia menegaskan pembangunan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, organisasi masyarakat, hingga warga sebagai bagian dari ekosistem pembangunan nasional.
Semakin banyak pihak yang berpartisipasi, semakin besar pula peluang terciptanya perubahan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk berinisiatif menyelesaikan persoalan yang ada di lingkungan sekitar.
4. Bergabung dalam aksi bersama agar dampaknya lebih besar
Ajakan Nyoman sejalan dengan berbagai kajian internasional mengenai pembangunan berkelanjutan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama perubahan.
Laporan Associated Press menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Conference of the Parties (COP30) di Brasil menunjukkan bahwa aksi individu akan memberikan hasil yang jauh lebih besar ketika dilakukan secara kolektif dalam komunitas.
Profesor Politik Lingkungan Universitas California Santa Barbara, Leah Stokes, menilai masyarakat sebaiknya bergabung dalam gerakan bersama dibanding hanya melakukan aksi secara sendiri-sendiri. Menurutnya, perubahan besar lahir dari keterlibatan banyak orang yang memiliki tujuan yang sama.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Program Komunikasi Perubahan Iklim Universitas Yale, Anthony Leiserowitz. Ia menilai perubahan sosial maupun perubahan kebijakan akan lebih mudah terjadi ketika masyarakat menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata, termasuk aktif dalam organisasi, komunitas, maupun kegiatan sukarela.
Sementara itu, Infinite Variable Foundation dalam kajian berjudul Small Acts, Big Impact: How Everyday Actions Can Drive Sustainable Development menjelaskan bahwa kebiasaan sederhana seperti menghemat air, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mendukung produk pertanian lokal mampu menciptakan efek berantai yang berdampak besar terhadap pembangunan berkelanjutan apabila dilakukan oleh banyak orang secara konsisten.

5. Menghidupkan kembali semangat gotong royong
Nyoman menilai Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya gotong royong. Nilai tersebut menjadi kekuatan yang perlu terus dijaga agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama perubahan.
Menurutnya, pemerintah tetap memiliki peran strategis sebagai penyusun kebijakan sekaligus fasilitator pembangunan. Namun, keberhasilan berbagai program akan lebih optimal apabila didukung oleh partisipasi aktif masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau tentang perubahan dan pembangunan, banyak yang menganggap itu tugas pemerintah. Sehingga kita sebagian besar memilih menunggu. Padahal sampai kapan kita terus seperti itu," ujar Nyoman.
Ia mengajak masyarakat mulai melakukan aksi nyata dari lingkungan paling dekat, baik di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, maupun lingkungan tempat tinggal. Perubahan, menurutnya, tidak harus menunggu adanya proyek besar ataupun dukungan anggaran yang besar.
Bagi Nyoman, pembangunan berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi atau banyaknya program pemerintah. Kemajuan bangsa juga lahir dari kebiasaan baik yang dilakukan masyarakat secara terus-menerus. Ketika satu orang memulai tindakan positif, orang lain berpotensi mengikuti sehingga tercipta budaya saling menginspirasi yang pada akhirnya membawa dampak besar bagi lingkungan, institusi, dan kemajuan Indonesia secara keseluruhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....