Ustaz Kifni Bagikan Sembilan Pedoman Hadapi Perbedaan

  • 08 Jul 2026 15:02 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Perbedaan pandangan sering memicu gesekan di masyarakat. Karena itu, perbedaan perlu disikapi dengan bijaksana agar tidak memicu perpecahan. Salah satu caranya dengan menerapkan sembilan pedoman menghadapi perbedaan yang berlandaskan sikap menghormati, menghargai, dan memahami.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Drs. KH. Achmad Kifni dalam dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto yang bertajuk “9 Pedoman Menghadapi Perbedaan”. Menurutnya, keberagaman suku, bahasa, agama, maupun perbedaan pendapat merupakan sunnatullah yang harus menjadi sumber kekuatan, bukan sumber konflik.

Ia menjelaskan, pedoman pertama adalah saling menghormati, menghargai, dan memahami satu sama lain. Selanjutnya, setiap perbedaan hendaknya diserahkan kembali dan dipasrahkan kepada Allah sebagai hakim yang paling adil. Pedoman lainnya meliputi bersikap dewasa dalam beragama, memandang perbedaan sebagai bagian dari ibadah, serta menyadari bahwa di tengah berbagai perbedaan tetap terdapat banyak persamaan.

“Jadi, tidak semuanya sama, tapi tidak semuanya beda,” tuturnya.

Ia melanjutkan, pedoman berikutnya adalah tidak merasa paling benar sendiri dan tidak gemar menyalahkan orang lain, Umat Islam juga diajak berharap agar setiap perbedaan yang didasari ilmu mendapat rida Allah. Pedoman berikutnya adalah tetap bersikap lapang dada. Pedoman terakhir adalah menjadikan ilmu atau ilmiah sebagai landasan dalam menyikapi perbedaan, bukan hawa nafsu.

Ia mengingatkan bahwa sikap merasa paling benar justru menjadi penghalang terciptanya persaudaraan. Karena itu, setiap perbedaan sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah dan diskusi yang didasarkan pada dalil serta ilmu pengetahuan.

Ustaz Kifni juga membagikan cara meruntuhkan tembok perbedaan, yakni melalui musyawarah dan dialog yang sehat.

"Maka musyawarah dan mujadalah, tukar pikiran dan diskusi. Jadi yang paling baik adalah ilmiah, ada dasarnya, ada pedomannya, seperti kereta yang ada relnya," sebutnya.

Di akhir pembicaraan, Ustaz Kifni menegaskan bahwa persaudaraan tidak harus dibangun atas dasar kesamaan, melainkan atas ketaatan kepada Allah.

"Walaupun berbeda, semua hamba Allah yang taat surga tempat tinggalnya. Janganlah merasa menjadi ahli surga sendiri. Mari bersama-sama menaati tuntunan Allah dan Rasulullah," pungkasnya. (Kartika)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....