Psikolog Jelaskan Cara Menghadapi Quarter Life Crisis Pasca Kuliah
- 30 Jun 2026 20:06 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Masa setelah lulus kuliah sering kali menjadi fase yang penuh tantangan bagi banyak lulusan baru. Di tengah tuntutan untuk segera bekerja, mandiri secara finansial, dan menentukan arah hidup, tidak sedikit fresh graduate yang mengalami quarter life crisis atau krisis seperempat abad.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa quarter life crisis merupakan fase yang wajar dialami seseorang ketika memasuki masa transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja. Menurutnya, kondisi tersebut ditandai dengan rasa bingung, cemas, hingga keraguan terhadap masa depan.
“Setelah lulus kuliah, banyak orang mulai mempertanyakan apakah dirinya sudah berada di jalan yang benar. Perasaan seperti itu merupakan bagian dari proses adaptasi menjadi orang dewasa,” ujarnya pada Senin (30/6/2026)
Menurut Andi, langkah pertama untuk menghadapi quarter life crisis adalah menerima bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ia mengingatkan agar lulusan baru tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur keberhasilan diri.
“Sering kali kita merasa tertinggal karena melihat teman sudah bekerja atau mencapai sesuatu lebih dulu. Padahal, setiap orang memiliki waktu dan proses yang tidak sama,” jelasnya.
Ia menambahkan, fresh graduate perlu mulai menetapkan tujuan yang realistis dan bertahap. Target yang terlalu besar dalam waktu singkat justru dapat meningkatkan tekanan dan memicu rasa kecewa ketika hasilnya belum sesuai harapan.
“Fokuslah pada langkah kecil yang bisa dilakukan setiap hari, seperti memperbaiki CV, mengikuti pelatihan, memperluas jaringan, atau melamar pekerjaan secara konsisten,” tambah Andi.
Selain itu, Andi menekankan pentingnya terus mengembangkan kemampuan diri selama masa transisi. Mengikuti kursus, sertifikasi, kegiatan sukarela, atau membangun portofolio dapat menjadi cara untuk meningkatkan kompetensi sekaligus rasa percaya diri.
Dari sisi psikologis, menjaga rutinitas harian juga dinilai penting. Menurutnya, tidur yang cukup, berolahraga, menjaga pola makan, dan tetap bersosialisasi dapat membantu mengurangi stres serta menjaga kondisi mental tetap stabil.
“Jangan sampai karena belum mendapatkan pekerjaan, seseorang justru kehilangan semangat menjalani aktivitas sehari-hari,” katanya.
Andi juga mengimbau lulusan baru untuk tidak ragu mencari dukungan ketika merasa kesulitan menghadapi tekanan. Berbagi cerita dengan keluarga, teman, mentor, atau berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih sehat.
“Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Justru itu menunjukkan bahwa seseorang peduli terhadap kesehatan mentalnya,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat, termasuk keluarga, dapat memberikan dukungan emosional kepada lulusan baru tanpa memberikan tekanan berlebihan mengenai pekerjaan atau pencapaian hidup.
“Quarter life crisis bukan sesuatu yang harus ditakuti. Jika dijalani dengan pola pikir yang sehat, fase ini justru dapat menjadi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri dan menentukan arah hidup yang sesuai,” pungkas Andi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....