Mengapa 29 Juni Menjadi Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus

  • 01 Jul 2026 02:18 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Setiap tanggal 29 Juni, Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus. Perayaan ini bukan sekadar mengenang dua rasul agung, tetapi juga menjadi simbol kesatuan Gereja yang dibangun di atas iman, kepemimpinan, dan semangat pewartaan Injil.

Meskipun Santo Petrus dan Santo Paulus memiliki latar belakang serta perjalanan hidup yang sangat berbeda, Gereja memperingati keduanya dalam satu hari raya karena peran besar mereka dalam mewartakan Injil dan membangun Gereja perdana. Menurut tradisi Gereja, keduanya juga menerima mahkota kemartiran di Kota Roma pada masa pemerintahan Kaisar Nero.

Tradisi memperingati Santo Petrus dan Santo Paulus secara bersama telah dikenal sejak abad-abad pertama Kekristenan. Di Roma, umat beriman mengenang kesaksian iman kedua rasul tersebut sebagai fondasi bertumbuhnya Gereja. Seiring perkembangan liturgi, tanggal 29 Juni kemudian ditetapkan sebagai Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus dan hingga kini dirayakan oleh Gereja Katolik di seluruh dunia.

Dikutip dari Gereja Katolik Indonesia (KOMSOS KWI/Gereja Katolik Indonesia), Santo Petrus yang semula bernama Simon merupakan seorang nelayan dari Galilea yang dipanggil Yesus menjadi murid-Nya. Ketika diperkenalkan oleh Andreas, Yesus bersabda, "Engkau adalah Simon, anak Yohanes. Engkau akan dinamakan Kefas" (Yohanes 1:42). Nama Kefas, yang berarti batu karang, menjadi tanda bahwa Petrus dipilih untuk memegang peranan penting dalam Gereja.

Panggilan Petrus semakin diteguhkan melalui mukjizat penangkapan ikan yang ajaib. Setelah mengakui dirinya sebagai orang berdosa, Yesus berkata kepadanya, "Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia" (Lukas 5:10). Sejak saat itu Petrus meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan dan mengikuti Kristus.

Iman Petrus mencapai puncaknya ketika ia mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Atas pengakuan iman itu, Yesus bersabda, "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku" (Matius 16:18). Setelah kebangkitan-Nya, Yesus kembali mempercayakan tugas menggembalakan umat kepada Petrus melalui perintah, "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yohanes 21:15-17). Tradisi Gereja menyebut Petrus sebagai Uskup Roma pertama yang wafat sebagai martir dengan disalibkan secara terbalik.

Berbeda dengan Petrus, Santo Paulus yang sebelumnya bernama Saulus berasal dari Tarsus dan dikenal sebagai seorang Farisi yang terpelajar. Pada awalnya ia merupakan penganiaya orang-orang Kristen. Namun, dalam perjalanan menuju Damsyik, ia mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit (Kisah Para Rasul 9:1-19). Peristiwa itu mengubah seluruh arah hidupnya.

Setelah dibaptis oleh Ananias, Paulus diutus menjadi rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia melakukan perjalanan misioner ke berbagai wilayah di sekitar Laut Tengah, mendirikan banyak jemaat, serta menulis surat-surat yang kini menjadi bagian dari Perjanjian Baru. Melalui pelayanannya, Injil semakin dikenal di berbagai wilayah Kekaisaran Romawi.

Pelayanan Paulus juga dipenuhi berbagai tantangan. Ia mengalami penolakan, penganiayaan, pemenjaraan, hingga akhirnya dibawa ke Roma. Sebagai warga negara Romawi, Paulus dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal sekitar tahun 67 Masehi. Kesetiaannya hingga akhir hayat menjadi kesaksian nyata akan imannya kepada Kristus.

Walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda, Petrus dan Paulus dipersatukan oleh panggilan yang sama, yakni menjadi saksi Kristus. Petrus dikenang sebagai lambang kesatuan dan kepemimpinan Gereja, sedangkan Paulus dikenal sebagai rasul bangsa-bangsa yang membawa Injil melampaui batas budaya dan wilayah.

Karena itulah Gereja merayakan keduanya dalam satu hari raya. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa Gereja bertumbuh melalui berbagai karunia yang Allah anugerahkan kepada umat-Nya. Kesatuan yang diwujudkan Petrus dan semangat misioner yang diteladankan Paulus menjadi dua unsur penting yang terus menghidupi Gereja hingga saat ini.

Bagi umat Katolik, Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus menjadi ajakan untuk meneladani iman yang teguh, keberanian dalam bersaksi, serta kesediaan untuk setia kepada Kristus dalam setiap situasi. Seperti kedua rasul agung tersebut, setiap orang dipanggil menjadi saksi Injil yang membawa kasih, harapan, dan damai sejahtera di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....