Menepis Salah Kaprah Identitas Pohon Bogem di Kawasan Mangrove
- 29 Jun 2026 00:55 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Sama halnya dengan kekeliruan yang sering menimpa pohon api-api, masyarakat awam juga kerap menyamaratakan pohon bogem atau pedada (Sonneratia spp.) sebagai pohon bakau biasa. Padahal, pohon yang termasuk dalam famili Lythraceae ini memiliki identitas dan pesona tersendiri yang sangat mencolok di dalam ekosistem mangrove. Pohon bogem umumnya mendiami zona tengah hutan mangrove, sebuah wilayah yang arusnya lebih tenang dibandingkan zona terluar, namun memiliki karakteristik tanah lumpur yang lebih padat. Keberadaannya menjadi pemandangan yang menyegarkan karena pohon ini memiliki tajuk yang rimbun dan hijau pekat, memberikan kontribusi visual yang kontras di sepanjang garis pantai atau muara sungai.
Ketangguhan pohon bogem dalam menghadapi lingkungan pesisir yang ekstrem didukung oleh sistem perakaran yang sangat adaptif. Berbeda dengan pohon bakau yang memiliki akar tunjang mencuat tinggi, pohon bogem mengembangkan sistem akar napas (pneumatophore) yang berbentuk seperti pasak atau kerucut besar yang tebal dan kokoh. Akar-akar ini tumbuh tegak lurus ke luar dari permukaan lumpur di sekitar batangnya, bertindak sebagai jangkar sekaligus alat pernapasan utama saat air laut pasang mumpung pasokan oksigen di dalam tanah sangat minim. Struktur akarnya yang besar dan kuat ini juga sangat efektif dalam menahan laju pergerakan sedimen tanah, sehingga mencegah pengikisan lahan basah oleh arus pasang surut.
Daya tarik utama yang membedakan pohon bogem dari jenis mangrove lainnya terletak pada keindahan bunga dan keunikan buahnya. Bunga pohon bogem memiliki kelopak yang besar dengan benang sari berwujud helai-helai rambut halus berwarna putih atau kemerahan yang mekar merekah, biasanya di sore hingga malam hari demi mengundang kelelawar sebagai agen penyerbukan utamanya. Setelah fase penyerbukan selesai, bunga ini akan berkembang menjadi buah bogem yang berbentuk bulat pipih mirip gasing dengan ujung lancip dan dibungkus kelopak bunga yang tebal. Buah inilah yang menjadi ciri khas paling dikenal, menonjol di antara dedaunan hijau dengan teksturnya yang padat.
Secara ekologis, pohon bogem memegang peranan krusial sebagai penyedia nutrisi utama (nutrient provider) dan rumah bagi berbagai fauna pesisir. Bunganya yang kaya akan nektar menjadi surga bagi berbagai serangga dan burung madu, sementara buahnya yang jatuh ke air sering kali menjadi santapan bagi ikan-ikan di sekitar muara. Tidak kalah penting, rimbunnya tajuk pohon bogem juga menjadi habitat favorit bagi koloni kunang-kunang serta tempat bersarang yang aman bagi kawanan burung pesisir. Keberadaan tegakan pohon bogem yang sehat menjadi indikator bahwa rantai makanan di kawasan mangrove tersebut masih berjalan dengan seimbang.
Di samping fungsi ekologisnya yang luar biasa, pohon bogem memiliki kedekatan tersendiri dengan kehidupan sosial dan kuliner masyarakat pesisir. Berbeda dengan mayoritas buah mangrove yang pahit atau beracun, buah bogem yang telah matang memiliki rasa asam segar yang khas dan aroma yang harum, sehingga sering dipanen untuk diolah secara tradisional. Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat telah menyulap buah pedada ini menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti sirup, selai, dodol, hingga campuran sambal khas pesisir. Melalui pemanfaatan yang berkelanjutan ini, pohon bogem tidak hanya menjadi benteng pelindung daratan, tetapi juga penggerak roda ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.(indungihutan.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....