Masyarakat Diminta Tidak Mencomot Ayat Al-Qur'an dari Media Sosial

  • 24 Jun 2026 08:55 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto– Masyarakat diminta lebih kritis dalam menerima informasi keagamaan yang beredar di media sosial. Potongan ayat Al-Qur'an yang disampaikan tanpa penjelasan konteks berisiko menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami ajaran Islam.

Dosen Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Saizu Purwokerto, Ismail, Lc., M.Hum., mengatakan perkembangan media digital memberikan kemudahan akses terhadap berbagai informasi keagamaan. Namun, kemudahan tersebut juga harus diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai.

"Jangan mencomot ayat secara acak lalu langsung digunakan untuk menyimpulkan suatu persoalan. Ayat harus dipahami secara utuh, baik teks maupun konteksnya," kata Ismail.

Ia menyarankan masyarakat untuk memperbanyak literasi keagamaan melalui pembacaan kitab tafsir dan sumber-sumber yang kredibel. Menurutnya, pemahaman agama tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan atau potongan konten singkat di media sosial.

Selain itu, masyarakat juga perlu belajar kepada guru yang memiliki sanad keilmuan jelas dan dikenal memiliki pandangan keagamaan yang moderat. Langkah tersebut penting untuk menghindari penyebaran pemahaman yang sempit atau ekstrem.

"Carilah guru yang kredibel, yang jelas keilmuannya dan memiliki cara pandang yang moderat. Ini penting agar kita tidak mudah terjebak pada pemahaman yang keliru," ujarnya.

Ismail juga mencontohkan bahwa perbedaan pendapat ulama sering kali dipengaruhi oleh kondisi sosial dan geografis tempat mereka hidup. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua pandangan dapat diterapkan secara sama pada setiap situasi.

Ia menegaskan bahwa cara memahami Al-Qur'an sangat menentukan sikap keberagamaan seseorang. Menurutnya, pemahaman yang seimbang antara teks dan konteks menjadi salah satu kunci utama dalam membangun moderasi beragama di Indonesia.

"Kalau kita mampu membaca Al-Qur'an secara utuh, maka agama akan menjadi sumber kedamaian. Tetapi jika dipahami secara parsial, risiko munculnya sikap intoleran dan radikal akan semakin besar," ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....