Mengenal "Humble Bragging": Strategi Presentasi Diri yang Tidak Efektif
- 23 Jun 2026 08:38 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Perilaku humble bragging sebagai strategi presentasi diri di media sosial dinilai tidak selalu efektif dalam membangun citra positif seseorang. Meskipun terlihat sebagai cara halus untuk menunjukkan pencapaian, pola komunikasi ini justru kerap menimbulkan kesan tidak tulus di mata publik.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Nia Anggri Noveni, S.PSi., M.A., menjelaskan bahwa humble bragging sering dianggap sebagai bentuk ekspresi diri yang manipulatif dan kurang autentik. Hal ini terjadi karena pesan yang disampaikan tidak sejalan antara isi dan cara penyampaiannya.
“Faktanya, humble bragging justru lebih tidak disukai karena orang menangkapnya sebagai sesuatu yang tidak tulus, manipulatif, dan kurang otentik,” ujarnya dalam Program Curhatnya Pro 2, Selasa (02/06/26).
Meski demikian, dalam konteks tertentu seperti komedi atau satire, humble bragging dapat lebih mudah diterima oleh publik. Hal ini karena unsur humor mampu mengurangi kesan pamer yang biasanya melekat pada perilaku tersebut.
Dalam praktiknya, humble bragging sering ditampilkan melalui keluhan terselubung, ungkapan syukur berlebihan, hingga penggunaan gaya bahasa merendah atau majas litotes. Pola ini digunakan agar seseorang tetap bisa menunjukkan pencapaian tanpa terlihat sombong secara langsung.
Namun, di balik itu, pelaku humble bragging umumnya memiliki kebutuhan akan pengakuan sosial yang cukup tinggi. Kebutuhan tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri, bahkan membentuk identitas semu yang dibangun melalui media sosial.
Ketergantungan terhadap validasi eksternal dinilai dapat berdampak negatif, seperti munculnya kecemasan ketika citra diri tidak lagi dapat dipertahankan. Selain itu, kebiasaan flexing juga berpotensi memicu dampak sosial pada orang lain, seperti rasa rendah diri, stres, hingga FOMO akibat perbandingan sosial.
Selain berdampak pada individu, fenomena ini juga dinilai dapat menurunkan tingkat kepercayaan publik ketika presentasi diri dianggap tidak jujur atau tidak sesuai kenyataan. Hal ini menunjukkan bahwa cara seseorang membangun citra diri di ruang digital sangat memengaruhi persepsi sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....