Berikut Ini Cara Muhasabah Diri yang Tepat
- 14 Jun 2026 11:13 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kesibukan duniawi sering kali membuat kita lupa terlebih terhadap momen akhir tahun Islam. Dalam Islam sendiri pergantian tahun menjadi waktu yang tepat untuk bermuhasabah diri selain juga menjalankan amalan- amalan baik yang dianjurkan. Lantas seperti apa cara muhasabah diri ?
Dalam program Mutiara Pagi, di Pro 1 RRI Madiun, Ustaz H. Pujianto, MHI., memberikan tausiyahnya tentang bagaimana seorang Muslim melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
Selain itu juga agar ketika bermuhasabah, kita sebagai umat Islam, tidak hanya terjebak dalam rutinitas hitung-hitungan amal saja.
“Jadi muhasabah yang ideal harus menggabungkan dua unsur penting, yaitu zikir dan tafakur. Mengutip firman Allah yang tertuang dalam QS. Al- Ahzab ayat 41:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ ٤١
yâ ayyuhalladzîna âmanudzkurullâha dzikrang katsîrâ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya
Dan juga padat QS. Al. Imran ayat 191:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١
alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu‘ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr
Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
| Baca juga: Mengenal Pria dengan Gaya Kelekatan Avoidant |
Dari ayat tersebut disebutkan bahwa manusia diminta untuk selalu mengingat Allah dengan berzikir sebanyak- banyaknya. Selain itu senantiasa merenung dalam segala kondisi, baik saat berdiri, duduk, maupun berbaring, terhadap segala ciptaan-Nya.
Lebih lanjut, bertafakur atau merenung sangat berbeda dengan melamun. Tafakur sendiri merupakan langkah nyata untuk memecahkan masalah dan memperbaiki diri, sementara melamun hanya berhenti pada pikiran tanpa ada aksi.
Langkah pertama dalam muhasabah yang tepat adalah menumbuhkan rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat yang telah diberikan Allah. Ustaz Pujianto juga mengungkapkan bahwa dengan bersyukur, arah kehidupan manusia tidak akan menjadi "ngawur".
Rasa syukur ini juga harus diimplementasikan juga ke dalam etos kerja dan ibadah demi menyempurnakan rukun Islam, bukan hanya ketika kita mendapatkan harta. Lebih lanjut, Ustaz Pujianto menyoroti salah satu penyakit hati kebanyakan manusia saat ini yaitu kecenderungan untuk selalu menuntut hak namun abai terhadap kewajiban.
Muhasabah yang jujur dan sepenuh hati akan membuka mata seseorang untuk melihat apakah dirinya sudah menunaikan kewajiban dengan baik. Bagi mereka yang melewati tahun dengan rasa kecewa, kegagalan, atau kehilangan orang tercinta, muhasabah adalah obatnya.
Ustaz Pujianto menyarankan agar senantiasa menjaga pikiran positif (husnuzan) kepada takdir Allah.
“Ketika seseorang ditinggalkan oleh orang tua, momen kehilangan itu harus diubah menjadi energi positif. Kita dapat memperbanyak doa untuk mereka, karena doa baik pasti akan kembali lagi kepada diri sendiri,” ungkapnya.
Terakhir, Ia juga menegaskan bahwa cara muhasabah selanjutnya adalah berpasrah kepada Allah. Ketika hati merasa susah, gelisah itu dikurangi dengan mengingat dan berpasrah kepada Allah, akhirnya yang ditambah adalah ketenangan dan kenikmatan itu sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....