Mengenal Pria dengan Gaya Kelekatan Avoidant
- 10 Jun 2026 09:37 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Dalam dunia hubungan asmara, kita sering menjumpai sosok pria yang tampak sempurna di awal perkenalan. Ia perhatian, mengerti cara membuat pasangannya merasa istimewa, dan seolah siap berkomitmen. Namun, begitu hubungan mulai serius dan pasangannya mulai menuntut kedekatan emosional, sikapnya berubah drastis. Ia menjauh, menjadi dingin, dan seolah membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya.
Jika Anda pernah atau sedang mengalami situasi ini, besar kemungkinan Anda sedang berhadapan dengan pria yang memiliki gaya kelekatan Avoidant atau sering disebut Avoidant Attachment Style.
Secara psikologis, gaya kelekatan avoidant adalah pola perilaku di mana seseorang merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang mendalam. Bagi mereka, kemandirian dan kebebasan adalah hal yang paling utama, hingga mereka menganggap keintiman dan komitmen sebagai ancaman terhadap kebebasan tersebut.
Dr. Amir Levov, seorang psikolog klinis dan penulis buku "Attached: The New Science of Adult Attachment and How It Can Help You Find—and Keep—Love", menjelaskan bahwa orang dengan gaya kelekatan ini biasanya tumbuh di lingkungan di mana kebutuhan emosional mereka sering diabaikan oleh pengasuh sejak kecil.
"Sejak kecil mereka belajar bahwa mengandalkan orang lain itu tidak aman atau tidak berguna. Akhirnya, mereka berjanji pada diri sendiri bahwa mereka harus mengurus diri sendiri dan tidak boleh terlalu membutuhkan orang lain," ungkap Dr. Amir Levov saat diwawancarai. Karena pola pikir tersebut, saat dewasa mereka mengembangkan mekanisme pertahanan diri dengan menekan kebutuhan akan cinta dan kasih sayang. Mereka percaya bahwa menjadi mandiri berarti tidak boleh bergantung pada siapa pun, bahkan pasangan sendiri.
Mengenali ciri-cirinya adalah langkah pertama untuk memahami mereka. Berikut adalah tanda-tanda umum yang diungkapkan oleh Rina Agustina, M.Psi., Psikolog, seorang praktisi psikologi klinis dewasa di Jakarta.
1. Menghindari Pembicaraan Masa Depan
Begitu Anda membicarakan rencana jangka panjang atau label hubungan, ia akan mengalihkan topik, marah, atau memberikan alasan bahwa "hubungan ini berjalan terlalu cepat".
"Bagi pria avoidant, membicarakan masa depan terasa seperti sedang ditangkap atau dikurung. Ia merasa identitas dirinya akan hilang jika menyatu dengan pasangannya," jelas Rina.
2. Sering Pull-Push (Dekat-Menjauh)
Ia bisa sangat romantis dalam satu waktu, lalu tiba-tiba menjadi dingin dan menjauh tanpa alasan yang jelas. Ini terjadi ketika alarm di dalam dirinya berbunyi: "Kita sudah terlalu dekat, saya harus menjaga jarak agar aman."
3. Sulit Mengekspresikan Perasaan
Jika Anda bertanya "Apa yang kamu rasakan?" atau "Apa yang mengganggumu?", jawabannya seringkali "Tidak apa-apa" atau "Aku baik-baik saja", padahal matanya berkata lain. Mereka menganggap mengekspresikan kerentanan adalah tanda kelemahan.
4. Mengkritisi Kekurangan Pasangan
Secara tidak sadar, mereka sering mencari-cari kesalahan pasangan sebagai alasan bawah sadar untuk tidak menjadi terlalu dekat. "Kamu terlalu cemburuan", "Kamu terlalu manja", padahal hal itu adalah wujud kasih sayang.
5. Menempatkan Pasangan di Atas Pijakan, Lalu Menariknya Turun
Di awal hubungan, Anda akan merasa seperti ratu. Namun saat komitmen mulai ada, perlahan perhatiannya beralih ke hobi, pekerjaan, atau teman-temannya, membuat pasangannya merasa kesepian meski sedang berpasangan.
Mengapa Mereka Seperti Itu? Apakah Mereka Tidak Mencintai Kita? Ini adalah pertanyaan yang paling sering menghantui pasangan pria avoidant. Dr. Amir Levov menegaskan, "Pria avoidant itu sebenarnya memiliki kebutuhan akan cinta yang sama dengan orang lain. Bedanya, mereka mematikan sinyal itu agar tidak terluka. Ketika ia menjauh, itu bukan berarti ia tidak sayang. Itu adalah respons otomatis otak yang merasa terancam."
Bagaimana Cara Menghadapinya?, Menjalani hubungan dengan pria avoidant memang melelahkan, terutama jika Anda memiliki gaya kelekatan cemas (anxious) yang justru semakin mendekat saat pasangannya menjauh. Namun, menurut Rina Agustina, M.Psi, hubungan ini tetap bisa berjalan baik jika kedua belah pihak mau berusaha.
"Kuncinya adalah memberinya ruang tanpa menghukumnya, dan berkomunikasi dengan tenang tanpa menuntut," saran Rina.
Beberapa tips yang disarankan:
1. Jangan Mengejar: Semakin Anda mengejar saat ia menjauh, semakin cepat ia lari. Tunjukkan bahwa Anda aman dan baik-baik saja meski ia sedang menjaga jarak.
2. Komunikasi Tidak Mengancam: Gunakan kalimat "Aku merasa bahagia saat kita meluangkan waktu bersama" daripada "Kamu kok jarang punya waktu buat aku sih?"
3. Bangun Keamanan: Yakinkan ia bahwa memiliki pasangan bukan berarti ia kehilangan kebebasannya.
4. Fokus pada Diri Sendiri: Jangan jadikan dia satu-satunya sumber kebahagiaan Anda. Semakin mandiri Anda, semakin ia merasa nyaman, karena bagi orang avoidant, orang mandiri itu adalah orang yang "aman" untuk dicintai.
Jadi, Pria dengan gaya kelekatan avoidant bukanlah orang yang jahat, mereka hanyalah orang yang terluka yang membangun tembok pelindung agar hatinya tidak hancur. Mencintai mereka membutuhkan kesabaran ekstra dan pengertian yang besar.
Seperti kata Dr. Amir Levov, "Mereka mungkin sulit dijangkau, tapi begitu mereka merasa benar-benar aman dan percaya bahwa Anda tidak akan mengikat mereka atau meninggalkan mereka, mereka bisa menjadi pasangan yang paling setia dan penuh kasih."
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....