Self Driving dan Konsep Simplicity: Kesederhanaan yang Mendatangkan Kedamaian

  • 11 Jun 2026 08:09 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Di tengah perkembangan media sosial saat ini, seorang individu dapat dengan mudah membagikan kehidupannya dan menjadi bahan konsumsi khayalak umum. Hal ini secara tidak langsung, memberikan suatu pengaruh tersendiri bagi siapapun yang mengonsumsinya.

Apalagi jika individu tersebut memiliki jumlah pengikut atau followers yang cukup besar, maka followers-nya pun akan lebih mudah mengikuti apa yang dilakukan individu tersebut. Kita biasa mengenal individu tersebut saat ini dengan istilah influencer atau seseorang yang memiliki kemampuan untuk dapat mempengaruhi orang lain melalui platform media sosial atau digitalnya.

Tentunya apapun yang dibagikan oleh seorang influencer tersebut bisa berupa hal positif ataupun negatif. Sebagai manusia modern yang tentunya erat sekali kebutuhan kita dengan pemakaian media sosial di kehidupan sehari-hari, influencer tersebut dapat memberikan efek negatif pada diri kita jika kita tidak memiliki apa yang namanya self driving.

Dalam dialog Ruang Psikologi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Imam Faisal Hamzah,S.Psi.,M.A, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) membagikan pandangannya mengenai self driving dan konsep hidup simplicity atau kesederhanaan yang mendatangkan kedamaian.

Media sosial dan segala macam isinya, termasuk dengan menjamurnya pertumbuhan influencer saat ini, tak bisa terlepas dari berbagai dampak negatifnya. Walaupun tentu ada hal-hal positif yang dapat kita temui dengan bersosial media dan mengikuti influencer, tetapi sebagai pengguna media sosial yang bijak, tentunya kita pun harus sadar bahwa terdapat dampak buruk yang berdampingan dengan dampak positif yang dihasilkan.

“Self driving dalam konteks kesehatan mental merupakan sebuah konsep otonom di mana kita memiliki kendali pada diri sendiri”, ungkap Faisal. “Contoh sederhananya itu ketika ada flash sale di e-commerce, kalau kita tidak punya kontrol, kita bisa saja kalap untuk beli barang itu. Padahal, ternyata kalau tidak lagi flash sale pun, tetap ada potongan harga,” tambahnya.

Ia mengatakan bahwa dengan adanya kontrol diri tersebut, dapat mengarahkan kita ke dalam konsep hidup yang lebih sederhana, sehingga dapat mengontrol keingnan dari hal-hal mubazir. “Apalagi di zaman sekarang, orang itu cenderung lebih memilih hal dari segi value-nya ketimbang fungsinya. Contohnya memaksakan diri untuk makan di tempat X supaya kelihatan seperti orang punya, padahal ekonominya biasa saja,” tuturnya.

Adanya konsep self driving di tengah gempuran media sosial dan zaman yang terus berkembang, tentunya dapat mendatangkan kedamaian batin bagi diri kita sendiri. “Jika kita terus mengikuti standar-standar yang ada di media sosial, tentu ujungnya hanya akan memberatkan diri sendiri,” ujar Faisal.

Dengan menyadari kemampuan diri, kita akan lebih bisa membangun hidup yang lebih sesuai dengan diri kita. Adanya kesederhanaan bukan berarti menjalani hidup yang susah, tetapi memahami bahwa hidup sejatinya adalah hidup yang cukup dan mendatangkan kedamaian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....