Melampiaskan Rasa Frustasi di Medsos: Bikin Konten Lucu tanpa Menyakiti Orang Lain

  • 22 Mei 2026 08:58 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID,Purwokerto - Di era digital saat ini, meme telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar konten hiburan. Bagi generasi muda, meme kini menjadi sarana adaptasi untuk melampiaskan stres dan frustasi sehari-hari, baik itu akibat beban pekerjaan, tugas kuliah, maupun dinamika kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan.

Dalam program Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto bersama Ahmad Fauzan Iswahyudi, S.Psi., M.A. – Dosen Fakultas Psikologi UMP yang membahas tema “Melampiaskan Rasa Frustasi dengan Meme di Medsos”.

Ahmad Fauzan mengungkapkan bahwa frustasi adalah hal manusiawi yang muncul saat kenyataan tidak sejalan dengan ekspektasi. Jika emosi negative ini dipendam, hal tersebut dapat menumpuk dan berisiko memicu perilaku agresif di kemudian hari.

“Frustasi itu kan Ketika harapan dan kenyataan tidak seusai,” tuturnya.

Dalam hal ini, Ahmad Fauzan menjelaskan bahwa penggunaan meme hadir sebagai mekanisme koping yang unik. Dengan menertawakan nasib melalui konten yang relate atau relevan, seseorang dapat merasa lebih lega. Ia juga menambahkan bahwa meme menjadi wadah bagi banyak orang untuk menyalurkan perasaan tersebut.

”Meme itu sendiri menjadi wadah nih, sarana kita untuk mengekspresikan apa sih yang sebenarnya tuh kita rasain,” ungkap Ahmad Fauzan.

Namun, Ahmad Fauzan menekankan bahwa di sisi lain perlu diwaspadai dari alur algoritma media sosial. Jika kita terus menerus mengonsumsi konten bernada negatif, sistem akan terus menyuguhkan hal serupa. Ahmad Fauzan mengingatkan bahwa ketika kita memberikan reaksi pada konten satir atau dark jokes, algoritma media sosial akan terus menyuguhkan konten-konten yang berkaitan yang justru dapat membuat kita terjebak dalam lingkaran emosi negatif.

Dengan demikian, meme sebagai pelampiasan frutasi sah dilakukan, sebab hal ini dapat menjadi mekansime koping yang unik. Namun, hal ini juga tentunya harus dengan memerhatikan intensitas konsumsinya, sebab algortima media sosial akan selalu mengahdirkan konten yang sama. (Helmalia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....