Perempuan dalam Psikologi: Seri Budaya Patriarki
- 01 Mei 2026 10:10 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Budaya patriarki yang telah berakar lama dalam struktur sosial masyarakat sering kali menempatkan perempuan dalam batasan aktivitas internal rumah tangga yang sempit, yang pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Tekanan untuk memenuhi standar ideal sebagai "perempuan sempurna" sering kali memicu konflik internal, kecemasan, hingga hilangnya aktualisasi diri bagi banyak perempuan di era modern.
Dalam program Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto bersama Nia Anggri Noveni, S.Psi., M.A., selaku Dosen Fakultas Psikologi UMP, menjelaskan bahwa konstruksi sosial patriarki membuat perempuan sering kali merasa harus memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kesehatan mentalnya sendiri. "Ketidakadilan gender bukan hanya soal pembagian peran, tetapi juga tentang bagaimana perempuan kehilangan otoritas atas tubuh dan pikiran mereka karena tuntutan lingkungan yang sangat patriarkis," tuturnya.
Dampak psikologis dari budaya ini terlihat jelas pada fenomena imposter syndrome, di mana perempuan merasa tidak layak atas pencapaian mereka karena adanya anggapan bahwa perempuan tidak seharusnya lebih unggul dari laki-laki. Selain itu, beban ganda yang dipikul perempuan sebagai pekerja sekaligus urusan rumah tangga tanpa dukungan pasangan yang seimbang sering kali menyebabkan kelelahan mental yang kronis.
Penting bagi masyarakat untuk mulai membedah nilai-nilai yang membatasi potensi perempuan dan mulai mempromosikan kemitraan yang setara dalam setiap aspek kehidupan. "Langkah awal untuk bangkit adalah dengan mengenali nilai diri sendiri dan berani menetapkan batasan, karena perempuan yang sehat secara psikologis adalah pondasi bagi keluarga dan masyarakat yang kuat," lanjutnya.
Pemberdayaan perempuan tidak berarti merendahkan peran laki-laki, melainkan menciptakan ruang aman bagi seseorang untuk tumbuh sesuai dengan minat dan bakatnya tanpa terhalang sekat gender. Dengan edukasi secara berlanjut dan dukungan lingkungan yang inklusif, kita dapat memutus rantai patriarki demi mewujudkan generasi masa depan yang lebih menghargai kemanusiaan di atas segalanya. (Khofifah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....