Ketika Dunia Tidak Lagi Menenangkan, Apa Faktornya?
- 15 Apr 2026 05:11 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh kemudahan, banyak orang justru mengalami kegelisahan batin yang mendalam. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama ketika seseorang secara materi tidak mengalami kekurangan, namun tetap merasa hampa dan tidak tenang. Dalam kajian Mutiara Pagi, Ustaz H. Kusnan, M.Ag. menyampaikan bahwa kondisi tersebut merupakan tanda bahwa manusia terlalu menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal duniawi.
“Banyak orang hari ini secara materi sudah tercukupi, bahkan berlimpah. Tapi hatinya kosong, gelisah, mudah cemas. Ini karena ketenangan tidak bersumber dari dunia, melainkan dari kedekatan kepada Allah,” ujar beliau, Rabu, 15 April 2026.
Menurutnya, persoalan ini juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Tekanan hidup, ekspektasi sosial, serta gaya hidup yang kompetitif sering kali membuat seseorang kehilangan arah dan makna hidup. Akibatnya, meskipun kebutuhan fisik terpenuhi, kebutuhan batin justru terabaikan.
Dalam perspektif Islam, ketenangan hati telah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
"Alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub,"
yang artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ustaz Kusnan menegaskan bahwa ayat ini menjadi kunci utama dalam menghadapi kegelisahan hidup. “Kalau hati ingin tenang, jangan hanya sibuk mengejar dunia. Perbanyak dzikir, perbaiki hubungan dengan Allah, karena di situlah sumber ketenangan sejati,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ust.Kusnan juga mengingatkan bahwa kesehatan mental dalam Islam tidak hanya dilihat dari kondisi psikologis semata, tetapi juga dari kekuatan spiritual seseorang. Ibadah, doa, serta rasa syukur menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan jiwa.
Fenomena ini menjadi refleksi bagi masyarakat bahwa kesuksesan tidak selalu identik dengan ketenangan. Justru, tanpa pondasi iman yang kuat, kemewahan dunia bisa menjadi sumber kegelisahan yang tak berkesudahan.
Sementara itu, ustaz Kusnan juga mengatakan bahwa overthinking atau berpikir berlebihan juga menjadi salah satu pemicu utama gangguan ketenangan mental. Pikiran yang terus berputar tanpa kendali membuat seseorang sulit merasa cukup, selalu khawatir terhadap masa depan, dan menyesali masa lalu.
“Kalau hati kita selalu terhubung dengan Allah, kita tidak akan mudah goyah oleh apa yang kita lihat di dunia, termasuk di media sosial. Kita jadi lebih bersyukur dan tidak mudah cemas,” ujarnya.
Kusnan juga menambahkan bahwa menjaga kesehatan mental dalam Islam tidak cukup hanya dengan mengatur pikiran, tetapi juga dengan memperkuat iman. Aktivitas seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, serta membatasi konsumsi media sosial dapat membantu menjaga keseimbangan hati dan pikiran.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa ketenangan tidak selalu sejalan dengan kemewahan. Bahkan, tanpa kendali diri dan kekuatan spiritual, dunia yang tampak indah justru bisa menjadi sumber kegelisahan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, menghindari kebiasaan membandingkan diri, serta mulai membangun kedekatan dengan Allah sebagai sumber ketenangan yang hakiki.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....