Cocopeat Sungai Kupah, Limbah Bernilai Ekonomi

  • 09 Apr 2026 12:57 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Kubu Raya – Pemanfaatan limbah sabut kelapa menjadi cocopeat mulai menunjukkan potensi besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat di Kalimantan Barat. Di tengah meningkatnya kebutuhan media tanam ramah lingkungan, cocopeat kini dilirik sebagai komoditas bernilai jual tinggi, termasuk di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Sungai Kupah.

Cocopeat merupakan serbuk hasil pengolahan sabut kelapa yang selama ini kerap dianggap limbah. Namun, kondisi terkini menunjukkan bahan ini semakin dibutuhkan sebagai media tanam alternatif, terutama karena kemampuannya menyimpan air dan mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.

Di Sungai Kupah, pengolahan cocopeat mulai dikembangkan sebagai usaha berbasis masyarakat. Produk ini tidak hanya memberi nilai tambah pada limbah kelapa, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga pesisir. Secara ekonomi, pengolahan cocopeat terbukti mampu menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui sektor produksi hingga pemasaran. Rudi Hartono, Pemuda Pelopor Desa Sungai Kupah, mengatakan bahwa potensi cocopeat sangat besar jika dikelola secara serius.

“Selama ini sabut kelapa hanya dibuang atau dibakar. Padahal, kalau diolah menjadi cocopeat, nilainya jauh lebih tinggi dan bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat,” ujarnya, Kamis, 9 April 2026.

Dari sisi harga, cocopeat memiliki nilai jual yang bervariasi tergantung kualitas dan volume. Di tingkat lokal, harga cocopeat berkisar mulai dari Rp5.000 untuk kemasan 5 kilogram, hingga mencapai sekitar Rp50.000 per kilogram untuk produk berkualitas tinggi dalam skala besar, seperti kemasan 50 kilogram. Rentang harga ini menunjukkan adanya peluang keuntungan yang cukup besar apabila pengolahan dan pemasaran dilakukan secara optimal.

Selain sebagai penggerak ekonomi, cocopeat memiliki sejumlah manfaat penting dalam bidang pertanian. Media tanam ini dikenal mampu menyerap dan menyimpan air lebih baik dibanding tanah biasa, meningkatkan aerasi, serta ramah lingkungan karena mudah terurai. Cocopeat juga dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman, mulai dari sayuran hingga tanaman hortikultura.

"pengembangan cocopeat di Sungai Kupah masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam aspek pemasaran. Keterbatasan akses pasar, minimnya jaringan distribusi, serta rendahnya daya saing produk lokal menjadi tantangan utama dan diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk memperluas pasar," katanya.

Dengan potensi bahan baku yang melimpah dan meningkatnya tren pertanian organik, cocopeat diyakini dapat menjadi komoditas unggulan desa. Namun, tanpa penguatan pada sektor hilir seperti pemasaran dan distribusi, peluang besar tersebut berisiko belum tergarap secara maksimal.

Baca juga:https://rri.co.id/pontianak/berita-lain/2321057/emas-hijau-di-pesisir-sungai-kupah⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....