Kepedulian Lingkungan dalam Ajaran Alquran

  • 02 Apr 2026 13:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Isu lingkungan hidup dalam satu dekade terakhir semakin mendapat perhatian global, termasuk dalam perspektif keagamaan yang dikenal sebagai eko-teologi. Dalam Islam, konsep ini menjadi bagian penting dari implementasi ajaran agama yang tidak hanya berfokus pada ibadah ritual, tetapi juga menekankan tanggung jawab manusia terhadap alam.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Prof. Dr. Abdu Mustaqim pada Rabu, 1 April 2026 dalam Mutiara Pagi RRI Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa agama tidak seharusnya dimaknai sebatas praktik ibadah semata. Lebih dari itu, agama harus mampu hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan, termasuk krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

Menurutnya, keberagamaan yang ideal adalah yang mampu mengintegrasikan nilai spiritual dengan kepedulian ekologis. Dengan demikian, ajaran agama dapat berkontribusi nyata dalam menjaga keseimbangan alam.

Salah satu contoh konkret kepedulian lingkungan dalam Islam dapat dilihat pada pelaksanaan ibadah haji. Dalam kondisi ihram, umat Muslim dilarang mencabut rumput, menebang pohon, serta berburu hewan.

Larangan tersebut tidak sekadar aturan ritual, tetapi juga mengandung makna simbolis yang kuat bahwa Islam menjunjung tinggi kelestarian lingkungan dan keberlangsungan ekosistem. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga populasi flora dan fauna merupakan bagian dari nilai ajaran Islam.

Bahkan, menanam pohon dalam Islam dapat dimaknai sebagai bentuk sedekah, karena pohon memberikan manfaat besar bagi kehidupan, termasuk menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia.

Dalam Alquran, konsep lingkungan juga tercermin melalui istilah “syajarah thayyibah” atau pohon yang baik. Para ulama tafsir mengaitkan istilah ini dengan “kalimat thayyibah”, yakni kalimat tauhid Laa ilaaha illallah.

Keduanya memiliki kesesuaian makna yang mendalam. Kalimat thayyibah diibaratkan sebagai “oksigen” bagi kesehatan spiritual manusia, sementara syajarah thayyibah memberikan oksigen bagi kesehatan fisik manusia.

Analogi ini menunjukkan bahwa Alquran menggunakan pendekatan ekologis untuk menjelaskan nilai-nilai spiritual, sehingga manusia dapat memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara iman dan lingkungan.

Penerapan nilai-nilai eko-teologi dalam Islam tidak hanya bersifat teoritis. Sebuah penelitian pada tahun 2011 di Tuban, Jawa Timur, menemukan adanya pesantren yang активно melakukan konservasi hutan.

Temuan ini menjadi bukti bahwa ajaran Islam tentang kepedulian lingkungan dapat diwujudkan dalam praktik nyata. Meski demikian, kajian tentang teologi lingkungan dalam Islam masih perlu terus dikembangkan.

Kesadaran umat terhadap isu lingkungan juga perlu ditingkatkan agar nilai-nilai ekologis dalam ajaran agama dapat diterapkan secara luas dan berkelanjutan.

Salah satu istilah penting dalam Alquran yang mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan adalah “Rabbil ‘Alamin” dalam Surah Al-Fatihah ayat 2, yang berarti “Tuhan semesta alam”.

Makna ini menegaskan bahwa Allah bukan hanya Tuhan manusia, tetapi juga Tuhan seluruh makhluk, termasuk hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Dengan demikian, Islam sebagai agama rahmat tidak hanya diperuntukkan bagi manusia, tetapi bagi seluruh alam semesta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....