Moderasi Beragama: Bekal Santri Menjaga Harmoni di Era Digital

  • 28 Mar 2026 12:21 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Penanaman nilai moderasi beragama di kalangan santri menjadi fondasi krusial dalam membentuk generasi muda yang toleran dan bijaksana di tengah keberagaman bangsa Indonesia. Hal ini menjadi poin utama dalam diskusi interaktif di Pro 2 Purwokerto pada Selasa (3/3/2026), yang menghadirkan pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Kedungbanteng, H.M.A. Muhammad Atik Nururrobbani.

Dalam dialog tersebut, Gus Atik sapaan akrabnya menjelaskan bahwa moderasi beragama atau wasathiyah merupakan sikap tengah yang seimbang, tidak ekstrem kanan (radikal) maupun ekstrem kiri (liberal). Ia menekankan bahwa moderasi bukan berarti mengikis keyakinan agama seseorang, melainkan cara menempatkan diri secara adil dalam menghadapi perbedaan.

"Moderasi ini mencakup seluruh aspek kehidupan. Sesederhana dalam urusan makan atau berwudhu, kita diajarkan untuk tidak berlebihan karena Allah tidak menyukai sesuatu yang melampaui batas," ungkap Gus Atik.

Pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam membentengi santri dari paham-paham ekstrem yang marak beredar di media sosial. Gus Atik memaparkan bahwa di lembaganya, moderasi tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi dipraktekkan melalui akhlak sehari-hari yang meneladani Rasulullah SAW.

Salah satu kisah yang ditekankan kepada santri adalah sikap toleransi Rasulullah terhadap kaum Yahudi dan Nasrani. Beliau mencontohkan bagaimana menghargai perbedaan tanpa harus mengorbankan pilar aqidah.

"Keberagaman bangsa Indonesia adalah sebuah keindahan. Seperti harmoni musik hadrah yang nikmat didengar karena perbedaan bunyi alat musiknya, begitulah seharusnya kita memandang kerukunan antarumat beragama," tambahnya.

Menghadapi derasnya arus informasi digital, pesantren membimbing santri agar kritis dan tidak mudah terprovokasi. Gus Atik menegaskan bahwa moderasi beragama harus berjalan beriringan dengan nilai kebangsaan dan cinta tanah air (NKRI).

Ia juga berpesan kepada masyarakat luas agar tidak ragu menjalin silaturahmi dengan para alim ulama dan pesantren untuk mendapatkan pencerahan agama yang mumpuni. Hal ini dinilai penting untuk menghindari salah pemahaman yang sering kali menjadi akar dari sikap radikalisme.

"Harapan saya, generasi muda terus disiplin menuntut ilmu dan menjaga kerukunan. Kita semua bersaudara, meskipun berbeda pendapat dan pemikiran, keharmonisan harus tetap menjadi tujuan utama," pungkas Gus Atik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....