Pendidikan Kreatif Dorong Penurunan Pengangguran Muda Indonesia

  • 19 Mar 2026 04:38 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Pendidikan kreatif dinilai menjadi salah satu kunci strategis dalam menekan angka pengangguran muda di Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional di masa depan.

Pengamat Ekonomi Kreatif, Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo mengatakan, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia, yang ditandai dengan tingginya angka NEET (Not in Education, Employment, or Training).

“Fenomena ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara sistem pendidikan, perkembangan ekonomi, dan perubahan teknologi,” ujar Waluyo kepada RRI beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pendekatan pendidikan kreatif hadir sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada pencari kerja (job seeker), tetapi juga mendorong lahirnya pencipta kerja (job creator).

Dalam praktiknya, pendidikan kreatif menekankan pada kemampuan berpikir kritis, inovasi, pemecahan masalah, serta mendorong kewirausahaan di kalangan generasi muda.

Lebih lanjut, Harry menjelaskan bahwa pendidikan kreatif memiliki keterkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi kreatif. Individu yang kreatif dan inovatif akan mampu menciptakan produk, teknologi, hingga bisnis baru yang berdampak pada terbukanya lapangan kerja.

“Ketika inovasi berkembang, maka akan muncul usaha-usaha baru yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menyerap tenaga kerja,” ucapnya.

Ia memproyeksikan, jika transformasi pendidikan kreatif dilakukan secara konsisten, angka NEET di Indonesia dapat mengalami penurunan signifikan hingga 2045.

“Secara bertahap, angka NEET berpotensi turun dari sekitar 22 persen pada 2025 menjadi sekitar 7 persen pada 2045,” katanya.

Selain itu, kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga diperkirakan meningkat, dari sekitar 8 persen saat ini menjadi hingga 18–20 persen pada 2045.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan langkah strategis yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari reformasi kurikulum, penguatan pendidikan STEAM, pengembangan ekosistem inovasi, hingga dukungan terhadap pelaku ekonomi kreatif.

Harry menegaskan, pendidikan kreatif harus menjadi fondasi utama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Jika sistem pendidikan dan kebijakan ekonomi berjalan selaras, generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi dan penggerak ekonomi masa depan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....