Rumah Sastra Arafura Hadapi Tantangan Literasi
- 24 Mei 2026 13:26 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Di tengah keterbatasan akses literasi di Kabupaten Kepulauan Aru, Komunitas Rumah Sastra Arafura terus berupaya menghadirkan ruang belajar dan berkarya bagi anak-anak muda. Dalam obrolan di ROK (Ruang Obrolan Komunitas) Pro 2 RRI Ambon pada 22 Mei 2026, Margareta Merpati Songot dan Ode Dermansya menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi komunitas tersebut dalam mengembangkan literasi dan seni di wilayah kepulauan.
Margareta menjelaskan bahwa akses buku di Kepulauan Aru masih sangat terbatas. Bahkan, di daerah tersebut belum tersedia toko buku yang dapat memenuhi kebutuhan bacaan masyarakat, khususnya anak-anak muda. Kondisi itu membuat komunitas harus mencari cara sendiri agar budaya membaca tetap tumbuh.
Rumah Sastra Arafura kemudian menghadirkan sebuah basecamp yang juga dilengkapi dengan teras baca sebagai ruang berkumpul dan belajar bersama. Buku-buku yang tersedia di tempat tersebut sebagian besar berasal dari para anggota komunitas yang sedang menempuh pendidikan di Ambon maupun daerah lain, lalu membawanya pulang ke Aru untuk dijadikan bahan bacaan bersama.
“Kami berusaha supaya teman-teman dan anak-anak di Aru tetap punya akses membaca walaupun sangat terbatas,” ungkap Margareta.
Selain persoalan buku, tantangan geografis juga menjadi hambatan besar bagi komunitas dalam menjalankan kegiatan. Sebagai wilayah kepulauan, perjalanan menuju desa-desa sering kali terkendala cuaca dan ombak tinggi. Tidak jarang, akses laut menjadi berbahaya saat musim tertentu.
Sementara itu, perjalanan darat menuju beberapa desa juga membutuhkan waktu yang panjang dengan kondisi jalan yang belum sepenuhnya memadai. Meski begitu, Rumah Sastra Arafura tetap berusaha menjangkau anak-anak muda di berbagai wilayah agar kegiatan literasi dan seni tidak hanya terpusat di Kota Dobo.
| Baca juga: Rumah Sastra Arafura Jadi Ruang Kreatif |
Tantangan lainnya adalah keterbatasan ruang untuk melakukan pertunjukan seni maupun kegiatan komunitas. Rumah Sastra Arafura kerap kesulitan mencari tempat yang dapat digunakan untuk pementasan atau aktivitas kreatif lainnya.
Sebagai daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), meningkatkan kesadaran membaca di masyarakat juga bukan hal yang mudah. Namun, di tengah segala keterbatasan tersebut, semangat para anggota komunitas justru terus tumbuh.
Margareta menyebutkan bahwa antusiasme anak-anak dan remaja untuk bergabung, belajar, dan berkarya menjadi alasan utama komunitas ini terus bergerak hingga sekarang. Semangat itu dinilai menjadi harapan besar bagi perkembangan literasi dan seni di Kepulauan Aru.
Melalui Rumah Sastra Arafura, anak-anak muda Aru tidak hanya mendapatkan ruang belajar, tetapi juga kesempatan untuk bertumbuh dan saling mendukung di tengah berbagai tantangan daerah kepulauan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....