Tetap atau Single: Hak Perempuan atas Pilihan Hidupnya

  • 04 Mar 2026 08:51 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Di tengah masyarakat yang plural, standar sosial sering kali jadi sebuah penilaian bagi masyarakatnya, tidak terkecuali dengan perempuan. Perempuan kerap dihadapkan pada standar yang seragam, seolah kebahagiaan hanya disepakati dapat dilalui dengan satu jalan. Padahal, pada dasarnya setiap manusia termasuk perempuan diberi akal, nurani, dan hak untuk menentukan arah hidupnya masing-masing.

Berkaitan dengan hal tersebut, segmen Pengarus Utamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto bersama Estining Pamungkas, S.Sos, M.I.Kom - Pengurus Daerah Salimah Purbalingga membahas tema yang relevan dengan hal tersebut, yaitu “Keputusan Perempuan Mandiri untuk Tetap atau Menjadi Single”.

Lalu, apa yang menjadi alasan perempuan memilih untuk tetap atau single? Dalam pembahasan ini, Estining Pamungkas melihat dari dua sisi subjek, yaitu perempuan yang memang belum menikah dan yang sudah pernah menikah.

Menurutnya, perempuan yang belum pernah menikah mempunyai alasan mengapa dirinya memilih untuk tidak menikah. Pertama, yaitu secara ekonomi sudah mandiri, “Karena sudah mandiri secara ekonomi dia merasa bahwa belum begitu perlu atau bahkan belum membutuhkan yang namanya kehadiran laki-laki,” tuturnya.

Kedua, yaitu sedang senang aktualisasi diri, “Ia merasa bahwa aku pendidikannya tinggi. Aku bisa punya kebebasan finansial. Aku pengen karirku maju dan sebagainya. Kalau menikah nanti banyak halangan,” jelas Pengurus Daerah Salimah Purbalingga tersebut.

Selanjutnya adalah perempuan tersebut melihat beban ganda seorang perempuan, kemudian yang terakhir, yaitu adanya trauma.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), Estining menyebutkan bahwa 5 tahun yang lalu penyebab utama dari perceraian adalah ekonomi. Namun, saat ini hal tersebut menjadi urutan kedua setelah konflik, ditinggalkan atau meninggalkan, KDRT, kemudian judi online menjadi faktor yang paling mengerikan sejak 2 tahun terakhir.

Pada ahirnya, pilihan hidup seseorang, termasuk perempuan menjadi haknya sendiri. Kebahagiaan pun tentu ada di tangan masing-masing. Tidak perlu menghakimi, sebab hidup tidak melulu tentang standar sosial yang terkesan mengekang. (Helmalia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....