Kebinekaan sebagai Wadah Pemersatu Bangsa

  • 18 Feb 2026 07:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Seperti yang kita ketahui, Bineka Tunggal Ika merupakan semboyan atau motto bangsa Indonesia. Hal ini tentu menjadi dasar bahwa persatuan atas keragaman SARA merupakan hal yang seharusnya menjadi harmoni, bukan sebagai perbedaan yang memecah belah.

Dalam Special Talk Spada Pro 2 RRI Purwokerto kali ini bersama dengan Sulistiani W, S.H., S.Pd sebagai penyuluh Kepercayaan Terhadap Tuhan YME membahas tema mengenai hal tersebut, yaitu “Merajut Harmoni Merawat Kebinekaan”. Dalam pembahasan ini, Kepercayaan Terhadap Tuhan YME menjadi pokok utama pembahasan.

Sulistiani yang kerap disapa Tia ini mengaku bahwa dirinya sudah aware terhadap ajaran leluhur pada saat duduk di bangku SMP, kemudian saat SMA memantapkan diri untuk kembali ke ajaran leluhur tersebut. Selain itu, Tia sendiri mengikuti kegiatan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) sudah sejak 2018, meskipun dirinya belum mengganti identitas di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Lalu, apa itu Kepercayaan Terhadap Tuhan YME? Sebagai salah satu penghayat kepercayaan tersebut, Sulistiani menjelaskan bahwa Kepercayaan Terhadap Tuhan YME merupakan pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan YME itu sendiri berdasarkan keyakinan yang diwujudkan dengan perilaku ketaqwaan terhadap Tuhan YME, serta pengamalan budi luhur yang ajarannya bersumber dari kearifan lokal bangsa Indonesia.

Sulistiani menyebutkan bahwa di Kabupaten Banyumas sendiri terdapat sekitar 6 paguyuban yang tergabung dalam Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

”Di Kabupaten Banyumas itu sendiri ada sekitar enam paguyuban yang tergabung dalam MLKI. Pertama, yaitu organisasi saya, Kawruh Rasa Sejati, Sapta Darma, Kapribaden, Kawuruhak, Tri Tunggal Bayu, Tri Luhur, satu lagi, Paguyuban Budaya Bangsa,” jelasnya.

Sulistiani juga menyebutkan bahwa kebinekaan telah lama dirawat di keenam paguyuban tersebut. Namun, dalam pelaksanaannya, tata cara beribadah dan hal lain sebagainya antara satu paguyuban dan paguyuban lain memiliki caranya yang berbeda-beda.

”Setiap paguyuban itu punya tata cara manembah-nya yang berbeda, penyebutan nama Tuhan itu pun berbeda,” ungkapnya.

Sulistiani mengaku bahwa meskipun dirinya juga sebagai penyuluh kepercayaan, tetapi dirinya tidak boleh mengajarkan ajaran yang didapat ke siswanya tersebut. Meskipun tujuannya sama, tetapi tata caranya berbeda.

Kebinekaan dalam hal ini menjadi sebuah wadah pemersatu bagi bangsa Indonesia yang beragam. Termasuk bagi setiap warga negara Indonesia yang menganut agama dan kepercayaannya masing-masing. Harmoni akan selalu tercipta ketika hal tersebut dijaga. (Helmalia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....