Tiga Dekade Udin, Semangatnya Tetap Menginspirasi Wartawan

  • 17 Feb 2026 16:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul - Tiga dekade telah berlalu sejak wafatnya wartawan Koran Berita Nasional (BERNAS) Fuad Muhammad Syafruddin atau yang akrab disapa Udin. Meski waktu terus berjalan, semangat keberanian dan integritasnya dalam menyuarakan kebenaran dinilai tetap relevan hingga kini, terutama bagi generasi wartawan muda yang menghadapi tantangan dunia pers modern.

Semangat tersebut menjadi benang merah dalam ziarah ke makam Udin di Dusun Gedongan, Desa Trirenggo, Bantul, yang dilakukan sejumlah wartawan senior pada Senin (9/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ziarah ini menjadi simbol penghormatan sekaligus refleksi atas perjuangan Udin dalam menjalankan profesinya sebagai jurnalis.

Mewakili wartawan senior, Sigit Purwita menegaskan bahwa ziarah ini bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah pers nasional, melainkan juga momentum untuk terus menyuarakan kebenaran. Ia menilai sosok Udin merupakan simbol keberanian wartawan dalam menghadapi tekanan kekuasaan. “Mas Udin bagi saya bukan sekadar teman, tapi ia adalah pahlawan dalam profesi wartawan,” ujarnya.

Menurut Sigit, keberanian Udin dalam menulis berita yang mengungkap fakta di tengah tekanan pemerintahan Orde Baru merupakan bentuk pengabdian tertinggi seorang wartawan. Pengorbanan tersebut tidak hanya mempertaruhkan keselamatan fisik, tetapi juga nyawa demi menjaga integritas dan kebenaran informasi. Semangat inilah yang diharapkan dapat terus hidup di kalangan wartawan masa kini.

Wartawan senior menggelar doa dan tabur bunga di makam Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) di Bantul, Senin (9/2/2026), memperingati 30 tahun wafatnya. (Foto: Istimewa).

Meski kasus penganiayaan yang dialami Udin pada malam 13 Agustus 1996 telah dinyatakan kadaluarsa secara hukum, kalangan pers masih berharap motif di balik peristiwa tersebut dapat diungkap secara terang. Sigit menegaskan pentingnya keterbukaan agar publik mengetahui latar belakang peristiwa yang merenggut nyawa seorang wartawan. “Kita mendorong aparat menyampaikan ke publik soal motif sebenarnya, meskipun pelaku tidak pernah ditangkap,” ujarnya.

Selain itu, wartawan di Yogyakarta juga mendorong pemerintah untuk mengkaji kemungkinan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Udin, khususnya di bidang pers. Ketua Komisi A DPRD Bantul, Jumakir, mengapresiasi konsistensi wartawan dalam menjaga ingatan atas perjuangan Udin. Ia menilai sosok Udin menjadi simbol perjuangan jurnalis dalam menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. “Semangat Udin bisa menjadi contoh bagi wartawan untuk terus memberitakan kebaikan,” ucapnya.

Momentum 30 tahun wafatnya Udin juga ditandai dengan keberadaan monumen di pusaranya yang menggambarkan perjuangannya di dunia jurnalistik. Wartawan senior berharap penghormatan ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga pengingat akan pentingnya keberanian dan integritas dalam profesi pers. Mereka menilai warisan nilai yang ditinggalkan Udin harus terus dijaga agar pers tetap menjadi pilar demokrasi yang kuat dan independen. (SUR/AAN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....