Sekolah Berdasarkan Ketunaan Jadi Solusi Pendidikan Inklusif
- 24 Mei 2026 19:22 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sekolah luar biasa berbasis jenis ketunaan dinilai masih menjadi kebutuhan penting dalam mendukung pendidikan anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Salah satunya dijalankan Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (YAKETUNIS) Yogyakarta yang sejak 1964 fokus memberikan pendidikan bagi penyandang disabilitas netra.
Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) A YAKETUNIS, Kustantini, SPd, menjelaskan bahwa sekolah luar biasa dibedakan berdasarkan jenis hambatan yang dimiliki peserta didik. Menurutnya, sistem tersebut bertujuan agar metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. “SLB A itu khusus untuk anak dengan hambatan penglihatan atau tunanetra,” ujarnya.
Ia mengatakan selain SLB A, terdapat pula SLB B untuk tuna rungu wicara, SLB C bagi anak dengan hambatan intelektual, hingga SLB D untuk penyandang tuna daksa, SLB E untuk anak tunalaras. Selain itu, terdapat pula kategori pendidikan untuk anak autisme dan anak dengan kecerdasan istimewa atau gifted.
Menurut Kustantini, YAKETUNIS sendiri memilih fokus pada pendidikan tunanetra agar pendampingan yang diberikan dapat lebih maksimal. Saat ini yayasan memiliki tiga lembaga utama yakni SLB A YAKETUNIS, Madrasah Tsanawiyah (MTS) YAKETUNIS, dan LKSA atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak sebagai asrama bagi siswa luar daerah.

Ia menjelaskan para siswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan sebagian tinggal di asrama karena rumah mereka jauh dari Yogyakarta. Tidak hanya siswa SLB dan MTS, beberapa anak asuh juga bersekolah di sekolah inklusi seperti Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7 Yogyakarta hingga SMA Negeri 1 Sewon. “Anak-anak yang rumahnya jauh tinggal di asrama agar lebih mudah mengikuti pendidikan,” katanya.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru di YAKETUNIS menggunakan metode kontekstual agar materi lebih bermakna dan mudah dipahami siswa tunanetra. Pembelajaran dilakukan menggunakan benda nyata dan alat peraga sehingga pengetahuan anak menjadi lebih konkret. “Kalau belajar tentang tumbuhan, anak-anak langsung diajak ke halaman supaya bisa memegang dan mengenali bentuknya,” ucapnya.
Selain pendidikan akademik, YAKETUNIS juga memberikan pembelajaran keterampilan hidup untuk meningkatkan kemandirian siswa. Keterampilan tersebut meliputi pijat, musik, membuat telur asin, hingga pelatihan orientasi mobilitas agar siswa mampu beraktivitas mandiri di ruang publik.
Kustantini menilai tantangan terbesar dalam mendidik anak berkebutuhan khusus justru datang dari ekspektasi orang tua yang terkadang belum memahami kondisi anak secara menyeluruh. Banyak orang tua berharap anaknya dapat berkembang seperti figur publik tunanetra terkenal meski kemampuan intelektual setiap anak berbeda.
Meski begitu, ia memastikan setiap anak tunanetra tetap memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Menurutnya, pendidikan yang tepat akan membantu mereka tumbuh mandiri dan mampu hidup berdampingan di masyarakat. “Di balik kekurangan pasti ada kelebihan yang bisa digali,” ujarnya.
YAKETUNIS juga terus mendorong pendidikan inklusif melalui kerja sama dengan masyarakat sekitar. Lingkungan sekitar yayasan disebut cukup ramah terhadap siswa tunanetra dan kerap membantu kegiatan sosial maupun keagamaan yang melibatkan para siswa.
Ke depan, YAKETUNIS berharap semakin banyak orang tua tidak ragu menyekolahkan anak tunanetra agar memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih baik. “Tujuan kami adalah membantu tunanetra menjadi pribadi mandiri dan sejahtera di masyarakat,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....