Suluh menyala pertanda ramadhan tiba di Sulbar

  • 31 Jan 2026 16:25 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan tradisi, terutama dalam menyambut bulan suci Ramadan. Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah budaya menyalakan suluh oleh masyarakat Suku Mandar di Sulawesi Barat.

Tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki makna spiritual, sosial, dan budaya yang mendalam.

Makna Suluh dalam Tradisi Mandar

Suluh adalah obor tradisional yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu yang dibalut bahan mudah terbakar. Dalam konteks budaya Mandar, suluh melambangkan cahaya, penerangan, dan harapan.

Menjelang Ramadan, masyarakat menyalakan suluh sebagai simbol menyambut datangnya bulan penuh berkah dengan hati yang bersih dan niat yang terang.

Cahaya suluh dimaknai sebagai penerang jiwa, mengingatkan umat untuk meninggalkan kegelapan perilaku buruk dan memasuki Ramadan dengan semangat perbaikan diri. Api yang menyala juga melambangkan semangat ibadah yang diharapkan terus berkobar sepanjang bulan suci.

Pelaksanaan Tradisi Biasanya, tradisi ini dilakukan pada malam terakhir bulan Sya’ban atau beberapa hari sebelum Ramadan. Warga, terutama para pemuda, berkumpul untuk menyiapkan suluh. Setelah itu, mereka berjalan bersama sambil membawa suluh yang menyala mengelilingi kampung atau menuju masjid.

Suasana menjadi meriah namun tetap khidmat. Anak-anak, orang tua, hingga tokoh adat turut menyaksikan atau berpartisipasi. Tidak jarang tradisi ini diiringi dengan lantunan doa, zikir, atau pengumuman resmi tentang akan dimulainya ibadah puasa.

Selain sebagai simbol spiritual, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Masyarakat berkumpul, saling bertegur sapa, dan memperkuat rasa persaudaraan menjelang bulan suci.

Nilai-Nilai yang Terkandung

Tradisi menyalakan suluh mencerminkan beberapa nilai penting dalam kehidupan masyarakat Mandar:

Religiusitas – Sebagai bentuk syiar dan penyambutan terhadap bulan Ramadan.

Kebersamaan – Dilaksanakan secara gotong royong dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Pelestarian budaya – Menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Pendidikan karakter – Mengajarkan generasi muda tentang makna persiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci.

Tantangan dan Pelestarian

Di era modern, tradisi seperti ini menghadapi tantangan, terutama karena perubahan gaya hidup dan pengaruh budaya luar. Namun, di banyak daerah Mandar, tradisi menyalakan suluh masih dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya.

Peran tokoh adat, pemerintah daerah, serta lembaga pendidikan sangat penting dalam melestarikan tradisi ini. Dengan mengemasnya secara edukatif dan tetap menjaga nilai aslinya, tradisi menyalakan suluh dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....