Chamonix 1924: Awal Tradisi Olimpiade Musim Dingin Global

  • 25 Jan 2026 06:37 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Pada 25 Januari 1924, ribuan atlet dan penonton berkumpul di Chamonix‑Mont‑Blanc, sebuah kota pegunungan di Prancis, untuk menyaksikan pembukaan acara olahraga musim dingin internasional yang kelak menjadi tonggak bersejarah. Acara yang awalnya diberi nama “International Winter Sports Week” ini kemudian diakui sebagai Olimpiade Musim Dingin pertama setelah sukses besar dan perubahan aturan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Gagasan mengadakan kompetisi olahraga musim dingin yang terpisah dari Olimpiade Musim Panas sudah muncul sejak awal abad ke‑20. Beberapa olahraga musim dingin seperti seluncur indah dan hoki es pernah masuk dalam program Olimpiade Musim Panas sebelumnya, tetapi belum ada kompetisi musim dingin yang khusus dan terorganisir secara besar‑besaran.

Pilihan Chamonix sebagai tuan rumah didorong oleh kondisi alamnya yang ideal untuk olahraga salju, dukungan infrastruktur lokal, dan antusiasme terhadap olahraga musim dingin di Eropa. Meskipun awalnya acara ini hanya dipandang sebagai festival olahraga, keberhasilannya menarik atlet dan penonton dari berbagai negara membuat IOC kemudian menetapkannya secara resmi sebagai Olimpiade Musim Dingin yang pertama.

Olimpiade Musim Dingin 1924 berlangsung dari 25 Januari hingga 5 Februari 1924, dengan diikuti oleh sekitar 258 atlet dari 16 negara yang bersaing dalam 16 nomor pertandingan dari enam cabang olahraga. Cabang‑cabang tersebut meliputi:

  • Hoki es
  • Seluncur indah
  • Seluncur cepat
  • Bobsleigh
  • Curling
  • Nordic combined serta ski lintas alam dan lompat ski (bagian dari program ski)

Acara pertama yang dimulai adalah seluncur cepat 500 meter, yang menjadi kompetisi pertama yang menghasilkan medali, dimenangkan oleh Charles Jewtraw dari Amerika Serikat — menjadikannya peraih emas pertama dalam sejarah Olimpiade Musim Dingin.

Beberapa atlet mencatat prestasi gemilang di Chamonix:

  • Clas Thunberg (Finlandia) menjadi salah satu atlet dengan raihan medali terbanyak di seluncur cepat dan cabang lainnya.
  • Thorleif Haug (Norwegia) mendominasi cabang ski, menjadi ikon olahraga musim dingin pada era itu.
  • Sonja Henie (Norwegia), yang baru berusia 11 tahun, ikut berlomba dalam seluncur indah dan kemudian menjadi salah satu legenda olahraga tersebut meski saat itu belum menang.

Walaupun awalnya acara ini tidak secara resmi disebut “Olimpiade Musim Dingin”, keberhasilannya memicu IOC mengubah aturan dan menjadikan Chamonix 1924 sebagai kelahiran resmi Olimpiade Musim Dingin. Pada 1925, IOC memutuskan untuk menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin setiap empat tahun dan kemudian secara retrospektif menamai pertemuan di Chamonix sebagai I Olympic Winter Games.

Olimpiade Musim Dingin 1924 bukan hanya sebuah kompetisi olahraga besar pertama di dunia untuk cabang‑cabang musim dingin, tetapi juga menjadi awal berkembangnya semangat persaingan global dalam olahraga salju dan es. Sejak saat itu, atlet dari berbagai belahan dunia terus bersaing, memperluas jumlah cabang olahraga, dan membawa budaya olahraga musim dingin ke panggung internasional yang lebih luas.

Olimpiade Musim Dingin 1924 di Chamonix, Prancis, yang dibuka pada 25 Januari 1924, merupakan tonggak penting sejarah olahraga global. Acara ini menandai dimulainya tradisi Olimpiade Musim Dingin yang kini dikenal secara resmi, mempertemukan atlet‑atlet dunia dalam kompetisi salju dan es, dan menyemai semangat persaingan yang tetap hidup hingga kini. (Falen Nelwan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....