Jangkau Anak Kurang Mampu, SRT 2 Medan Jadi Harapan Keluarga
- 16 Jul 2026 13:12 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 30 Medan, Syahripal Putra, menegaskan penerimaan peserta didik di Sekolah Rakyat tidak dilakukan melalui mekanisme pendaftaran, melainkan dengan sistem penjangkauan terhadap anak-anak yang membutuhkan.
Menurutnya, Kementerian Sosial melalui para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) melakukan ground checking untuk memastikan calon peserta didik benar-benar berasal dari keluarga yang layak menerima bantuan pendidikan.
"Di Sekolah Rakyat itu kita tidak menerima pendaftaran. Kita menjangkau anak-anak yang tidak terjangkau. Pendamping PKH melakukan ground checking agar benar-benar melihat kondisi anak di lapangan dan memastikan mereka layak dibantu," kata Syahripal, Selasa, 15 Juli 2026.
Ia mengakui, penjangkauan peserta didik jenjang SD masih menjadi tantangan karena sebagian orang tua belum siap melepas anak yang masih berusia kecil untuk tinggal di asrama. Sementara itu, minat masyarakat pada jenjang SMP dan SMA dinilai cukup tinggi.
Syahripal menambahkan, Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi entry multi exit, sehingga anak-anak yang pernah putus sekolah tetap dapat melanjutkan pendidikan sesuai jenjang terakhir yang ditempuh. Selama memenuhi persyaratan dan dinilai layak menerima bantuan, mereka dapat diterima tanpa harus mengulang dari kelas awal.
Ia juga mengajak para orang tua untuk mempercayakan pendidikan anak kepada Sekolah Rakyat. Menurutnya, seluruh kebutuhan dasar peserta didik telah ditanggung negara, mulai dari tempat tinggal, makan, seragam, hingga perlengkapan kebutuhan sehari-hari.
"Anak-anak mendapatkan tiga kali makan, dua kali makanan ringan, delapan stel seragam, hingga perlengkapan kebersihan diri. Kami berharap orang tua percaya kepada kami agar anak-anak dapat belajar dengan nyaman dan memperoleh pendidikan yang layak," ujarnya.
Sementara, Salah seorang orang tua siswa, Romasta Marbun, mengaku sempat merasa sedih saat harus melepas putranya yang baru berusia tujuh tahun untuk tinggal di asrama. Menurutnya, sang anak juga sempat menangis pada malam pertama karena belum terbiasa berpisah dengan orang tua.
Namun, setelah sehari mengikuti MPLS, Romasta melihat putranya mulai ceria dan mampu beradaptasi dengan lingkungan serta teman-teman barunya. Ia menilai perubahan itu membuat dirinya lebih tenang melepas sang anak menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Sebenarnya perasaannya sedih karena kami belum pernah berpisah. Tapi sekarang saya lihat dia sudah ceria dan bisa bersosialisasi dengan teman-temannya," ujar Romasta.
Romasta mengatakan, anaknya didaftarkan ke SRT 2 Kota Medan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang memberikan informasi dan melakukan pendataan kepada keluarga. Menurutnya, kehadiran Sekolah Rakyat sangat membantu masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah karena seluruh kebutuhan pendidikan, tempat tinggal, dan makan ditanggung pemerintah.
"Kalau menurut saya pribadi, Sekolah Rakyat ini sangat bagus. Sangat membantu keluarga yang perekonomiannya menengah ke bawah. Harapan saya anak bisa sukses, pintar, dan membanggakan orang tua serta negara," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....