Joli Jolan Solo Kelola 1 Ton Barang per Bulan, Begini Caranya

  • 15 Jul 2026 20:57 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Di tengah meningkatnya budaya konsumtif dan persoalan sampah perkotaan, Komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan di Surakarta menghadirkan solusi melalui gerakan redistribusi barang layak pakai. Selama tujuh tahun berjalan, komunitas ini berhasil mengelola rata-rata 1 ton barang setiap bulan sekaligus membangun gerakan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan dalam Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Surakarta, Senin 13 Juli 2026, yang menghadirkan tiga narasumber, yakni Septina, Atikah, dan Dinda.

Septina menjelaskan, Joli Jolan lahir pada 2019 dari keprihatinan para relawan terhadap tingginya perilaku konsumtif masyarakat perkotaan. Menurutnya, banyak barang yang sebenarnya masih layak digunakan justru berakhir menjadi sampah, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang membutuhkan.

"Akhirnya terciptalah ruang solidaritas Joli Jolan. Barang-barang yang ada di kami hanya sebagai sarana mempertemukan teman-teman yang memiliki kelebihan barang dengan orang-orang yang memang membutuhkan," ujar Septina.

Ia menegaskan, prinsip utama yang dipegang komunitas tersebut adalah "ambil sesuai kebutuhan, berikan sesuai kemampuan." Menurut Septina, Joli Jolan tidak sekadar menyalurkan bantuan, melainkan menjalankan konsep redistribusi kepemilikan barang agar usia manfaat suatu barang menjadi lebih panjang.

"Kami bukan sekadar menyalurkan. Yang kami lakukan adalah redistribusi kepemilikan barang supaya keberlanjutannya terus berjalan," katanya.

Joli Jolan juga mengembangkan konsep ekonomi sirkular. Selain mengurangi timbulan sampah, komunitas ini membangun kemandirian melalui sebuah lini usaha bernama Koci.

Atikah menjelaskan, Koci merupakan toko yang menjual barang-barang berkualitas dengan harga terjangkau. Seluruh hasil penjualannya digunakan untuk membiayai operasional komunitas.

"Koci adalah salah satu lini usaha komunitas kami untuk menopang pendanaan gerakan. Kami sama sekali tidak memiliki pendanaan dari mana pun. Kami benar-benar berdikari," kata Atikah.

Barang yang dijual di Koci merupakan hasil serah kelola masyarakat yang telah melalui proses penyortiran. Barang dengan kondisi sangat baik dijual dengan harga jauh di bawah harga pasar, sementara barang lainnya didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Melalui sistem tersebut, Joli Jolan mampu tetap menjalankan berbagai kegiatan sosial tanpa bergantung pada bantuan pihak luar. Hingga saat ini, Joli Jolan didukung sekitar 30 relawan aktif dan memiliki lebih dari 3.000 anggota.

Dalam satu bulan, komunitas ini mampu mengelola sekitar 1 ton barang layak pakai, mulai dari pakaian, tas, sepatu, buku, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga. Barang-barang tersebut berasal dari masyarakat yang melakukan serah kelola, termasuk barang peninggalan anggota keluarga yang telah meninggal maupun barang yang sudah tidak lagi digunakan.

Selain membuka galeri setiap hari Sabtu di markas mereka di Jalan Siwalan No. 1, Kerten, Surakarta, Joli Jolan juga aktif berkolaborasi dengan berbagai komunitas.

Salah satunya adalah pelatihan pembuatan kerajinan bersama warga binaan Rutan Surakarta menggunakan kain perca dan material layak pakai yang kemudian dipasarkan kembali. Selain mengurangi sampah, komunitas ini juga mengajak masyarakat menjalani gaya hidup yang lebih sederhana.

Septina menilai persoalan sampah sebenarnya bermula dari pola konsumsi yang berlebihan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri untuk berpikir ulang sebelum membeli sesuatu.

"Sebenarnya sebelum 3R ada satu hal lagi, yaitu rethinking. Kita berpikir kembali ketika akan mengonsumsi sesuatu. Apakah memang kebutuhan atau hanya keinginan," ujarnya.

Ia menambahkan, para relawan juga berusaha menjadi contoh dengan menggunakan barang secara berulang, membawa tumbler sendiri, serta tidak mengikuti tren konsumsi secara berlebihan.

Sementara itu, Dinda menepis anggapan bahwa Joli Jolan hanya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Menurutnya, gerakan tersebut terbuka bagi siapa saja yang peduli terhadap isu lingkungan, sosial, dan ekonomi.

"Joli Jolan bukan untuk orang yang kekurangan saja. Aku ingin semua kalangan, semua orang, semua generasi melek terhadap isu lingkungan, isu sosial, dan isu ekonomi," kata Dinda.

Ia juga mengingatkan bahwa fenomena fast fashion menjadi salah satu penyumbang meningkatnya limbah tekstil. Barang-barang yang sudah tidak digunakan sebaiknya diserahkelolakan agar dapat dimanfaatkan kembali oleh orang lain.

Masyarakat yang ingin menjadi anggota cukup datang ke markas Joli Jolan di Jalan Siwalan No. 1, Kerten, Surakarta, dengan membawa KTP untuk didaftarkan sebagai member. Anggota dapat mengambil maksimal tiga barang layak pakai setiap dua minggu sekali sesuai ketentuan yang berlaku.

Informasi mengenai kegiatan, layanan, maupun kontak komunitas dapat diakses melalui Instagram dan TikTok @joli.jolan, serta situs jolijolan.org.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....