Baubau Bersih Berawal dari Disiplin Warga

  • 13 Jul 2026 12:38 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Matahari belum lagi terbit di ufuk timur Baubau, namun gerak nadi kebersihan kota sudah berdenyut kencang. Saat sebagian besar warga masih terbuai mimpi, tim penyapu jalan sudah menyebar ke berbagai sudut kota sejak subuh hari. Dengan sapu lidi di tangan, mereka menyisir aspal, mengumpulkan dedaunan dan sisa-sisa debu, memastikan bahwa ketika kota terbangun, jalanan sudah dalam kondisi rapi.

Menyusul setelahnya, barulah deru mesin armada truk sampah bergemuruh di pagi hari. Para petugas angkut berjibaku menaikkan gunungan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) ke atas bak truk, berpacu dengan waktu sebelum aktivitas ekonomi kota mulai padat. Harapan mereka semua sederhana, kerja estafet sejak subuh hingga pagi, bisa menyajikan wajah Baubau yang bersih dan segar.

Namun realitanya, pemandangan di lapangan kerap menggores hati. Seringkali, baru saja tim penyapu menyelesaikan tugasnya dan truk sampah berlalu meninggalkan TPS yang sudah bersih, satu per satu oknum warga keluar dari rumah. Dengan santai, mereka melempar kantong plastik berisi sampah baru ke tempat yang baru saja dibersihkan.

Seketika, usaha para petugas yang bekerja memeras keringat sejak fajar seolah menguap begitu saja. Sampah kembali menumpuk, mengundang lalat, dan menebar aroma tak sedap justru di saat warga lainnya mulai beraktivitas.

DLH Baubau sebenarnya telah menetapkan jam krusial untuk pembuangan sampah oleh warga, yaitu mulai pukul 17.00 WITA sore hingga 05.00 WITA subuh. Kepala DLH Baubau, Amiruddin mengatakan, rentang waktu dua belas jam ini bukan tanpa perhitungan matang. Jika warga disiplin membuang sampah pada malam hari, maka saat tim penyapu bekerja di subuh hari dan truk sampah mengangkutnya pada pagi hari, seluruh sampah akan terangkut bersih tanpa sisa.

"Kenapa diambil waktu demikian? Agar sampah itu tidak menumpuk dalam waktu yang lama. Kalau masyarakat disiplin membuang pada waktu yang ditentukan, sampah yang dibuang malam hari akan langsung diangkut pagi-pagi sekali. Hasilnya, kota terhindar dari bau busuk dan sampah tidak sempat berserakan ke mana-mana,"jelas Amiruddin, Senin 13 Juli 2026.

Sayangnya, rantai disiplin ini sering terputus oleh ego sebagian kecil masyarakat. Sampah yang dibuang di luar jadwal alias setelah truk sampah pergi, akhirnya tertinggal dan membusuk, menjadi "wajah" kumuh yang mencoreng estetika kota sepanjang hari.

Persoalan tidak berhenti pada jam membuang sampah. Amiruddin juga mengetuk kesadaran warga dari hulu, dari dalam rumah masing-masing. Dirinya mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan diri memilah sampah antara yang organik dan anorganik.

Memisahkan sampah plastik dengan sampah organik yang mudah membusuk, ternyata membawa dampak domino yang luar biasa di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Ini sangat membantu penanganan di TPA. Sampah anorganik yang sudah terpisah akan lebih mudah diambil untuk diolah kembali, baik oleh saudara-saudara kita para pemulung maupun oleh petugas DLH sendiri,"tambahnya.

Kini, bola bersambut ada di tangan masyarakat Baubau. Keindahan kota ini tidak bisa lagi digantungkan hanya pada pundak tim penyapu jalanan dan petugas truk sampah. Perubahan besar itu harus dimulai dari hal paling mendasar yakni patuh membuang sampah pada pukul 17.00 hingga 05.00 WITA, serta kerelaan untuk mulai memilah kantong plastik dan sisa makanan sejak dari dapur kita sendiri.

Melalui ketertiban waktu dan pilahan sampah dari rumah, tidak hanya meringankan beban para petugas di lapangan, tetapi juga sedang ikut merawat martabat Kota Baubau. Sebab pada akhirnya, kota yang bersih dan asri bukanlah kota yang memiliki pasukan kebersihan paling banyak, melainkan kota yang masyarakatnya paling tahu cara menghargai lingkungan dan menghormati hak-hak sesama warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....