Pesta Adat Pasca Panen Dayak Deyah, Tradisi Syukur yang Terus Dijaga dan Menguatkan

  • 08 Jul 2026 21:21 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Tradisi Pesta Adat Pasca Panen Dayak Deyah bukan sekadar perayaan hasil panen, tetapi menjadi wujud rasa syukur, pelestarian budaya, sekaligus penguat persaudaraan masyarakat. Nilai-nilai tersebut dibahas dalam siaran Ragam Budaya bersama IKASBA Pro 4 RRI Banjarmasin edisi Senin, 6 Juli 2026 yang menghadirkan tokoh lintas komunitas budaya.

Ketua Kerukunan Keluarga (KK) Dayak Deyah, Drs. Djohansyah Atak, menjelaskan bahwa pesta adat pasca panen telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi yang diperoleh masyarakat Dayak Deyah setiap tahun. Menurutnya, tradisi tersebut diawali dengan panen pada Mei, dilanjutkan pembersihan hasil panen selama Juni, kemudian memasuki puncak pesta adat pada Juli.

"Pada dasarnya pesta panen adalah bentuk ucapan syukur masyarakat Dayak Deyah atas hasil panen yang diperoleh selama satu tahun. Dahulu setiap kepala keluarga menggelarnya sendiri-sendiri, tetapi sejak 2018 disepakati dilaksanakan secara bersama agar lebih meriah, memperkuat persatuan, dan menjadi daya tarik budaya," ujar Djohansyah.

Ia menambahkan, dalam pelaksanaannya masyarakat menyiapkan hasil panen berupa beras dan berbagai makanan tradisional sebagai bagian dari prosesi adat. Setelah ritual selesai, seluruh makanan dinikmati bersama masyarakat sebagai simbol kebersamaan. Pesta adat juga diisi dengan pertunjukan seni budaya, tarian tradisional, hingga penyajian kuliner khas Dayak Deyah, seperti lamang dan aneka olahan beras.

Sementara itu, Ketua KK Madura, Dr. Drs. Masrani Noor, S.Ak., M.Si., atau guteh menilai pesta adat tersebut mengandung nilai gotong royong, silaturahmi, dan pelestarian budaya yang penting diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, tradisi lokal juga dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat melalui keterlibatan pelaku UMKM dan promosi produk khas daerah.

"Tradisi seperti ini bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga memperkuat kebersamaan masyarakat dan membuka peluang ekonomi. Nilai-nilai kearifan lokal harus terus dipertahankan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman," katanya.

Ketua KK Jawa Tengah, Rakhmat Basuki, SE, atau pa Bas mengatakan tradisi syukuran pasca panen juga dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan bentuk yang berbeda. Menurutnya, seluruh tradisi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Adapun Ketua KK Banjar, ibu Ratu, menyoroti kekayaan kuliner yang menjadi bagian penting dalam pesta adat tersebut. Ia menilai beragam olahan berbahan dasar beras, seperti lamang dan berbagai wadai tradisional, dapat menjadi daya tarik tersendiri sekaligus membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat yang datang menghadiri perayaan.

Melalui siaran tersebut, Ragam Budaya bersama IKASBA kembali memperkenalkan kekayaan tradisi nusantara sekaligus mengajak masyarakat untuk terus melestarikan budaya lokal sebagai identitas bangsa yang sarat nilai syukur, kebersamaan, dan gotong royong.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....