KPSI Solo Raya Hadirkan Ruang Aman bagi Penyintas Mental Illness

  • 10 Mei 2026 10:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Solo Raya menegaskan pentingnya dukungan komunitas bagi penyintas gangguan mental. Hal itu disampaikan dalam talkshow Obrolan Komunitas RRI Surakarta pada Jumat, 8 Mei 2026 dengan tema “Bukan Sendiri, Komunitas sebagai Ruang Harapan”.

Ketua KPSI Solo Raya, Fithri Setya Marwati, mengatakan KPSI menjadi wadah bagi penyintas disabilitas psikososial seperti skizofrenia, bipolar, dan depresi. “Walaupun namanya skizofrenia, anggota kami tidak terbatas hanya di skizofrenia saja. Ada depresi, bipolar, dan lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan anggota KPSI bukan hanya penyintas, tetapi juga caregiver, keluarga, psikolog, psikiater, hingga relawan inklusi. Saat ini, KPSI Solo Raya memiliki sekitar 200 anggota dari berbagai wilayah Solo Raya.

Menurut Fithri, penyintas gangguan mental masih sering mendapat stigma negatif di masyarakat. Bahkan, masih ada keluarga yang memilih mengurung anggota keluarganya karena malu.

“Di fabel psikososial itu tidak nampak. Kadang kelihatannya baik-baik saja, tetapi ternyata ada sesuatu yang dirasakan survivor,” katanya.

Ia menegaskan penyintas justru perlu didorong untuk bersosialisasi dan mendapatkan dukungan lingkungan. “Yang sakit di fabel psikososial ini justru harus kita dorong untuk bisa bersosialisasi,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Rr Aneta Jihan Aunnillah membagikan pengalamannya sebagai penyintas skizofrenia. Ia mengaku pernah mengalami halusinasi hingga kesulitan membedakan mimpi dan kenyataan.

“Yang saya alami biasanya bisikan-bisikan. Padahal sebenarnya di belakang tidak ada siapa-siapa,” katanya.

Aneta juga pernah mengalami kondisi emosional yang tidak stabil hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Namun, ia kini mampu bangkit dan menjalani profesi sebagai terapis.

“Saya tetap optimis mencari cara agar tubuh tetap prima,” ujarnya.

Ia mengatakan dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. “Yang mendampingi saya lebih dekat dengan ibu. Saya memang terbuka dengan ibu, curhat apa pun ke ibu,” katanya.

Fithri menambahkan masyarakat perlu menghapus stigma bahwa rumah sakit jiwa hanya untuk orang gila. Menurutnya, semakin cepat penyintas mendapat penanganan, semakin baik peluang pemulihannya.

“Jangan berstigma bahwa kalau ke RSJ itu gila,” tegasnya.

KPSI Solo Raya juga aktif melakukan edukasi masyarakat melalui seminar, pelatihan relawan inklusi, hingga advokasi kepada pemerintah daerah. Selain itu, KPSI rutin mengadakan kopdar dan sharing untuk para penyintas dan keluarga.

“Kami ingin survivor tidak merasa sendirian. Semboyan kami di KPSI adalah keluarga,” kata Fithri.

Melalui komunitas tersebut, para penyintas diharapkan tetap memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. “Kami juga ingin diberi kesempatan memiliki pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang layak,” ujarnya.

Di akhir talkshow, Aneta memberikan pesan penyemangat kepada para penyintas gangguan mental. “Kita didewasakan oleh luka dan bersahabatlah dengan takdir,” ujarnya. (CA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....