Pemuda Cilincing Sulap Lahan Sampah Jadi Urban Farming
- 03 Mei 2026 08:15 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA– Di tengah padatnya kawasan Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, sebuah perubahan positif muncul dari tangan dingin para pemuda setempat. Lahan kosong di bawah kolong tol yang dulunya menjadi tempat pembuangan sampah ilegal, kini disulap menjadi kebun urban farming yang hijau dan produktif.
Adalah Dwi Angga Mukti (26), ketua Kelompok Tani "Bangun Karya Mandiri", yang memprakarsai gerakan ini sejak awal tahun 2024. Berawal dari keprihatinan melihat lahan sisa pembangunan waduk yang terbengkalai dan penuh sampah, Angga mengajak rekan-rekan sesama pemuda di RW 10 Semper Timur untuk mulai bercocok tanam.
“Awalnya ini tempat sampah. Daripada jadi kumuh, mending kita manfaatkan buat pertanian. Selain menghasilkan, tujuan utamanya adalah mengajak anak-anak muda di sini punya kegiatan positif,” ujar Angga kepada RRI Jakarta, Sabtu 2 Mai 2026.
Bukan sekadar urusan perut, kelompok tani ini menjadi wadah pemberdayaan sosial. Kawasan tersebut sebelumnya dikenal rawan aksi tawuran antar-pemuda. Dengan adanya aktivitas di kebun, Angga mengaku intensitas gesekan antar-remaja mulai berkurang karena mereka kini memiliki kesibukan yang membuahkan hasil.
"Dulu anak-anak muda sering tawuran karena nggak ada kegiatan. Sekarang, mereka lebih memilih ke kebun. Hasil panennya juga bisa buat uang jajan mereka," tambahnya.
Di atas lahan seluas kurang lebih 1.500 meter persegi, kelompok ini menanam berbagai jenis sayuran, mulai dari kangkung, bayam, kemangi, sawi, hingga cabai. Setiap harinya, mereka melakukan panen untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Sayuran hasil panen tersebut rutin dipasok ke pedagang bakso, penjual seblak, hingga pasar tradisional di sekitar Cilincing. Untuk omzet, Angga menyebutkan bahwa kelompoknya bisa meraup pendapatan rata-rata Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan. Bahkan, saat panen raya sistem hidroponik, mereka pernah meraih pemasukan lebih dari Rp2 juta dalam sekali panen.
Meski terlihat sukses, perjuangan Angga dan kawan-kawan bukan tanpa hambatan. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah kualitas air. Lokasi yang dekat dengan pesisir membuat air waduk di sekitar lahan bersifat payau atau asin.
"Airnya asin, jadi nggak cocok buat tanaman. Kalau dipaksa, tanaman bisa hangus dan mati. Jadi kami harus kreatif mencari sumber air tawar, bahkan kadang harus mengangkut air secara manual menggunakan galon," ungkap Angga.
Berkat ketekunan tersebut, Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri kini mendapat pembinaan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Utara, yang memberikan bantuan berupa benih, pupuk, hingga bimbingan teknis.
Kisah Angga dan kawan-kawan di Cilincing ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan lahan dan stigma negatif lingkungan bukan penghalang untuk menciptakan perubahan ekonomi dan sosial yang berdampak luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....