Eco Ranger Unismuh Makassar Dilatih Kelola Limbah Dapur
- 01 Mei 2026 19:15 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar— Unit Sustainable Waste Solution Center (SWSC) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar kursus pengelolaan limbah dapur menjadi kompos di Bank Sampah Unismuh Makassar, Kamis 30 April 2026. Kegiatan ini bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada penguatan pengelolaan sampah organik dari sumbernya di lingkungan kampus.
Peserta kegiatan berasal dari kalangan mahasiswa Unismuh Makassar yang dipersiapkan sebagai Tim Eco Ranger, dengan peran strategis sebagai agen perubahan lingkungan yang tidak hanya memahami teknis pengolahan sampah, tetapi juga mampu mengedukasi, mengajak, serta mendampingi warga kampus untuk lebih peduli terhadap pengelolaan limbah organik secara berkelanjutan.
Kepala Pusat SWSC Unismuh Makassar, Dr. Hj. Fatmawati Andi Mappasere, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi kampus dalam menghadirkan solusi sederhana namun berdampak terhadap persoalan sampah organik yang kerap menjadi tantangan di lingkungan perkotaan maupun kampus. “Pengolahan limbah dapur menjadi kompos merupakan langkah sederhana untuk mengurangi volume sampah organik. Ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Sebelum menerima materi pelatihan, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal terkait pengelolaan limbah dapur serta proses pembuatan kompos, sehingga materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat pengetahuan peserta secara lebih efektif. Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsiah, M.Si., Guru Besar Fakultas Pertanian Unismuh Makassar sekaligus penasihat SWSC, yang memaparkan secara rinci tahapan pembuatan kompos dari limbah dapur mulai dari pemilahan bahan organik, pencacahan, pencampuran, pengaturan kelembapan, hingga proses fermentasi yang tepat.
Menurut Syamsiah, limbah seperti sisa sayuran dan kulit buah tidak seharusnya langsung dibuang, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos yang memiliki nilai guna tinggi untuk mendukung kebutuhan tanaman serta penghijauan di lingkungan sekitar. “Limbah organik perlu dikelola secara berkelanjutan, tidak hanya saat pelatihan, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Selanjutnya, Sahlan, S.Pd., M.Si., dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Unismuh Makassar, membahas aspek ekonomi dari pengolahan limbah dapur dengan menekankan bahwa limbah organik memiliki potensi nilai tambah apabila dikelola secara tepat dan konsisten. “Pengolahan limbah dapur menjadi kompos bukan hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat untuk penghijauan maupun pertanian skala kecil,” ujarnya.
Sementara itu, Wardah, S.Sos., M.A., dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unismuh Makassar, memberikan penguatan dari sisi edukasi lingkungan dengan menekankan pentingnya komunikasi yang efektif dalam membangun kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Menurut Wardah, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas yang tersedia, tetapi juga pada tingkat kesadaran dan partisipasi aktif seluruh warga kampus dalam menerapkan kebiasaan ramah lingkungan secara konsisten.
“Eco Ranger harus menjadi agen perubahan. Mereka tidak hanya terampil membuat kompos, tetapi juga mampu mengedukasi dan menggerakkan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pelaksanaan post-test guna mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, sekaligus menjadi indikator keberhasilan program dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa yang terlibat. Melalui program ini, SWSC Unismuh Makassar berharap mahasiswa Eco Ranger dapat menjadi motor penggerak dalam membangun budaya memilah sampah serta mengolah limbah organik menjadi kompos, sehingga tercipta lingkungan kampus yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....