Petani Enggan Tanam Kedelai, Ekonom: Harus Ada Penjamin
- 13 Apr 2026 17:55 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Eksistensi Bulog dituntut untuk lebih ekspansif dengan tidak hanya menjadi penyerap gabah, melainkan juga harus berani membeli hasil kedelai petani. Ekonom Dr. Sutardjo Tui menyoroti bahwa ketiadaan lembaga penjamin harga membuat petani enggan menanam kedelai karena takut hasilnya tidak terserap pasar.
"Apalagi kalau tidak ada kesiapannya Bulog untuk membeli kedelai, sementara saat ini mereka hanya siap membeli beras. Negara harus hadir sebagai stabilisator harga agar petani tidak merugi saat masa panen tiba," ungkap Dr. Sutardjo senin 13 April 2026.
Ia menekankan bahwa kedelai memiliki nilai tambah luar biasa jika diolah menjadi tempe yang merupakan produk kebanggaan asli Indonesia. Tempe memiliki pasar ekspor yang sangat menjanjikan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Belanda, hingga Jepang.
"Tempe itu menjadi bahan ekspor Indonesia ke Amerika dan Jepang dengan harga jual yang sangat mahal. Ini adalah peluang besar untuk menambah devisa negara jika dikelola dengan serius oleh pemerintah," tambahnya.
Strategi hilirisasi kedelai menjadi tempe dianggap sebagai solusi jitu untuk memperkuat nilai tukar rupiah dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Peningkatan ekspor produk olahan kedelai secara otomatis akan memperkuat cadangan devisa sekaligus meningkatkan posisi tawar Indonesia di pasar global.
"Kita mengurangi impor berarti menghemat devisa, dan saat kita banyak ekspor berarti kita menambah devisa negara. Jadi banyak sekali keuntungan yang didapat jika pemerintah mau serius menggarap sektor kedelai ini," tutur Dr. Sutardjo.
Melalui peran aktif Bulog sebagai hub logistik, rantai pasok kedelai dari petani hingga ke industri tempe diharapkan bisa berjalan lebih stabil. Sinergi antara kebijakan serapan pasar dan orientasi ekspor menjadi pondasi kuat menuju kemandirian ekonomi nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....