Usai Lebaran, Warga Sukabumi Merantau Bertani ke Batam

  • 29 Mar 2026 14:22 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Perbedaan nilai jual komoditas pertanian antar wilayah menjadi alasan kuat bagi banyak petani untuk merantau. Salah satunya adalah Deni (34), pria asal Sukabumi, Jawa Barat, yang telah tiga tahun terakhir memilih untuk berkebun di wilayah Barelang, Batam.

Dalam sebuah wawancara RRI Jakarta di Pelabuhan Tanjung Priok saat hendak kembali ke Batam setelah mudik Lebaran, Deni membagikan pengalamannya mengenai potensi besar sektor pertanian di Batam dibandingkan daerah asalnya. Menurutnya, harga jual hasil panen di Batam jauh lebih menjanjikan.

"Di kampung (Sukabumi), harga pisang dari petani itu kisaran Rp1.500 sampai Rp2.000 per kilo. Paling tinggi pun Rp3.000. Tapi kalau di Batam, harganya bisa tembus Rp6.000 sampai Rp7.000 per kilo," ungkap Deni. Sabtu 28 Maret 2026

Tak hanya pisang, komoditas sayuran seperti kangkung, bayam, timun, dan kacang panjang juga memiliki selisih harga yang signifikan. Jika di Jawa harga sayuran sering anjlok hingga Rp500 per kilo, di Batam harga terendahnya berada di kisaran Rp2.000 dan bisa melonjak hingga Rp12.000 per kilo.

Meski demikian, bertani di Batam bukan tanpa tantangan. Deni menjelaskan bahwa petani di Batam tidak mendapatkan subsidi pupuk kimia maupun pupuk kandang dari pemerintah, berbeda dengan di Jawa. Hal ini membuat biaya modal yang harus dikeluarkan petani di perantauan menjadi lebih tinggi.

Selain itu, status kepemilikan lahan di Batam juga unik. Lahan yang dikelola Deni merupakan milik Badan Pengusahaan (BP) Batam. Ia bekerja sama dengan pengelola lahan dengan sistem bagi hasil atau komitmen tertentu selama lahan tersebut belum digunakan oleh negara.

"Yang penting aku kelola lahan di sana, milik BP Batam. Selama lahan itu belum digunakan, kita bisa manfaatkan dulu," tambahnya.

Selama tiga tahun merantau, Deni mengaku sering merasakan rindu kampung halaman, terutama kepada orang tua dan anaknya di Sukabumi. Namun, rasa rindu itu terobati ketika ia berhasil meraih panen yang memuaskan dan bisa mengirimkan uang untuk keluarga di desa.

"Sukanya kalau panen berhasil, ada untung buat dikirim ke kampung. Dukanya kalau kena penyakit atau gagal panen sementara modal sudah habis. Di situlah ujiannya perantau," pungkas pria kelahiran 1992 tersebut.

Kisah Deni menunjukkan bahwa meski penuh tantangan teknis dan biaya produksi yang tinggi, sektor pertanian di Batam tetap menjadi peluang ekonomi yang menggiurkan bagi para petani kreatif dari Pulau Jawa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....