Perahu Kayu Jadi Solusi Mudik Warga Hindari Macet Jakarta

  • 17 Mar 2026 09:20 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Transportasi air tradisional ternyata masih memegang peranan vital bagi denyut nadi masyarakat pesisir. Di tengah hiruk-pikuk dan kemacetan jalur darat, perahu kayu yang menghubungkan kawasan Cilincing, Jakarta Utara, dengan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, tetap menjadi primadona, khususnya bagi kaum ibu.

Seperti halnya Nurjana (52), warga asli Muara Gembong. Ia memilih menggunakan moda transportasi perahu kayu untuk kembali ke rumahnya setelah selesai berkunjung dan bersilaturahmi dari kediaman sang adik di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.

Perjalanan yang diakuinya hanya dilakukan setahun sekali ini lebih nyaman ditempuh lewat jalur laut. Alasannya sederhana namun sangat realistis bagi seorang ibu rumah tangga: urusan barang bawaan dan anak.

"Ke sini (Cilincing) jalan-jalan saja, main ke rumah adik. Baliknya pilih naik perahu karena banyak bawaan barang-barang. Kalau lewat darat kan susah bawanya, mau tidak mau ya lewat jalur laut. Semua bisa dibawa," ungkap Nurjana saat ditemui RRI Jakarta di atas perahu. Senin16 Maret 2026.

Selain keleluasaan membawa barang, menghindari kemacetan jalur darat Jakarta-Bekasi menjadi pertimbangan utamanya. Meskipun jika kondisi jalanan lancar perjalanan darat bisa lebih cepat, realita kemacetan yang kerap terjadi membuat jalur laut menjadi pilihan yang paling masuk akal dan efisien baginya.

Tarif yang dikenakan pun sangat bersahabat dengan kantong masyarakat kelas menengah ke bawah. Hanya dengan merogoh kocek Rp25.000, penumpang sudah bisa duduk manis menikmati perjalanan membelah perairan teluk Jakarta hingga tiba di Muara Gembong, tanpa ada biaya tambahan atau pembatasan ketat untuk barang bawaan.

Meski begitu, perjalanan jalur laut bukannya tanpa risiko. Cuaca pesisir yang kerap berubah-ubah menjadi tantangan tersendiri. Nurjana tak menampik bahwa terkadang ada rasa ngeri yang menghinggapi perasaannya selama berada di atas perahu kayu tersebut.

"Ya takutlah kalau lagi ada ombak gede (besar), kadang-kadang kencang," akunya. Namun, rasa takut itu berhasil ia singkirkan demi kepraktisan perjalanan bersama keluarga.

Kehadiran transportasi perahu tradisional ini dinilai sangat membantu mobilitas warga pesisir. Sebagai seorang warga yang merasakan langsung manfaatnya, Nurjana menaruh harapan besar agar moda transportasi ini tidak tergerus zaman dan tetap beroperasi.

"Pengennya sih transportasi kapal kayak gini tetap ada terus, soalnya ini jadi solusi buat atasi macet juga," pungkasnya.

Kisah Ibu Nurjana menjadi cerminan bahwa di balik modernisasi transportasi ibu kota, perahu tradisional masih menjadi urat nadi yang tak tergantikan bagi sebagian masyarakat pinggiran untuk saling terhubung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....