UMKM Lukis Fesyen Bertahan lewat Inovasi dan Promosi Media Sosial

  • 16 Mei 2026 20:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pelaku UMKM seni lukis mengembangkan produk fashion unik untuk menarik minat pasar dan konsumen
  • Promosi melalui media sosial membantu produk lukis lebih dikenal dan mendatangkan pesanan dari berbagai daerah
  • Produk fashion lukis mendapat apresiasi positif, terutama dari pembeli dan pengunjung mancanegara

RRI.CO.ID, Jakarta – Pelaku UMKM seni lukis terus mengembangkan produk fesyen bernilai seni untuk menarik minat pasar. Inovasi produk dan promosi digital dinilai menjadi kunci bertahan di tengah persaingan usaha kreatif.

Pemilik Dewidji Lukis Semarang Wiwik Soesmono Martosiswojo mengatakan awalnya dirinya hanya melukis di atas kanvas. Namun, minat pasar terhadap lukisan kanvas kemudian menurun sehingga dirinya mulai beralih melukis di media tas.

Menurut Wiwik, produk tas lukis lebih diminati karena memiliki nilai manfaat bagi konsumen hingga pesanan terus berdatangan. Kondisi tersebut membuat dirinya mulai serius menekuni usaha lukis sejak 2012 sebelum resign dari perusahaan pada 2016.

Karena saat itu saya kebanjiran order, jadi saya kewalahan. Akhirnya saya memilih untuk resign dan mengerjakan usaha lukis,” ucap Wiwik saat berdialog dengan Pro3 RRI dalam program ‘Geliat UMKM Nusantara’ melalui virtual, Sabtu, 16 Mei 2026.

Wiwik mengatakan perkembangan usaha lukisnya juga mengalami pasang surut mengikuti kondisi pasar. Namun, saat pandemi COVID-19, pesanan justru meningkat melalui produk masker lukis.

Ia menjelaskan motif lukisan yang dihasilkannya disesuaikan dengan pangsa pasar masing-masing daerah. Untuk pasar Semarang, dirinya banyak menghadirkan tema khas seperti Kota Lama dan Lawang Sewu.

“Karena saya lebih banyak di Semarang, jadi saya motifnya tema semarangan seperti Kota Lama yang khas Semarang. Atau kalau pangsa pasarnya ibu-ibu juga lebih ke banyak ke gambar bunga gitu,” kata dia.

Dalam proses produksi, Wiwik mengaku mampu menyelesaikan sekitar lima tas lukis setiap harinya. Untuk pesanan besar, dirinya mengaku kerap menggunakan teknik pola mal agar pengerjaan lebih cepat dan tetap rapi.

“Saya bikin dulu di karton, kemudian saya blet gitu. Jadi lebih cepat nggak satu-satu,” ujarnya.

Menurut Wiwik, tantangan usaha lukis saat ini semakin besar karena persaingan pelaku usaha terus bertambah. Karena itu, dirinya terus berupaya berinovasi dan memenuhi berbagai permintaan pembeli sesuai kebutuhan pasar menjadi hal penting.

“Kita harus lebih inovasi, kalau ada permintaan yang rumit-rumit, kita berusaha untuk sesuai dengan permintaan buyer. Alhamdulillah selama ini kebanyakan mereka puas dengan yang mereka minta sesuai,” ujar pemilik UMKM tersebut.

Ia juga mengaku aktif mempromosikan hasil karya melalui media sosial agar produknya mudah ditemukan konsumen. Menurutnya, konsistensi mengunggah produk di media sosial membuat usahanya lebih mudah ditemukan.

Semakin kita rajin posting di Instagram, nama kita di Google dicari kita akan di atas. Jadi makanya kadang saya dapat pesanan dari buyer yang tidak dikenal itu mereka langsung WA ke saya,” katanya.

Pemilik UMKM Zenea Lukis Surabaya Nita Erlina (kiri) saat berdialog dengan Pro3 RRI memperlihatkan hasil karyanya tampil dikegiatan fashion show dalam program 'Geliat UMKM Nusantara' Sabtu, 16 Mei 2026 (Foto: RRI NET)

Sementara itu, Pemilik Zenea Lukis Surabaya Nita Erlina mengatakan usaha lukisnya berawal dari hobi pribadi. Ia mengaku kerap menggunakan produk lukis miliknya saat menghadiri kegiatan komunitas.

Menurutnya, dari situ banyak orang mulai tertarik dan memesan produk lukis miliknya. “Dari situlah timbul ide untuk ini bisa dijadikan lahan bisnis,” ujarnya.

Nita mengatakan usaha yang awalnya dikerjakan sendiri kini berkembang melibatkan sembilan pelukis. Selain itu, usahanya juga didukung pengrajin tas dan penjahit untuk memproduksi berbagai produk fashion lukis.

Menurut Nita, ciri khas produk Zenea Lukis terletak pada detail lukisan yang terlihat natural dan halus. Ia mengaku selalu memperhatikan detail gambar agar hasil lukisan terlihat hidup.

“Jadi misalnya mawar itu saya sangat detail, kelopaknya ini harus hidup, harus benar-benar seperti jadi lebih ke yang natural. Walaupun tidak pure naturalis, masih ada tambahan-tambahan yang menjadi ciri khas dari Zenea lukis,” ucap Nita.

Meski demikian, Nita mengaku tantangan terbesar justru muncul ketika hasil karya seni ditawar terlalu murah oleh pembeli. Padahal, setiap produk dibuat secara detail dan membutuhkan waktu pengerjaan cukup lama.

“Kadang agak sedihnya karena kami mengerjakannya dengan hati, dengan sepenuh hati. Tapi begitu selesai orang menawar yang sangat rendah,” katanya.

Meski begitu, Nita mengaku masih banyak pembeli yang menghargai hasil karya lukis buatannya. Ia mengatakan produk Zenea Lukis juga mendapat respons positif saat dipamerkan, terutama dari pembeli mancanegara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....