Mendag Dorong Putaran Ketiga Perundingan Dagang, agar Perluas Ekspor ke Sri Lanka

  • 16 Sep 2026 18:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong kelanjutan negosiasi ISL-PTA putaran ketiga dengan Sri Lanka untuk memperluas akses pasar ekspor Indonesia ke Asia Selatan.
  • Pertemuan bilateral antara Indonesia dan Sri Lanka berlangsung di Jakarta pada Rabu, 16 September 2026, dengan melibatkan Anil Jayantha Fernando selaku Menteri Tenaga Kerja sekaligus Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan Sri Lanka.
  • Perjanjian perdagangan preferensial ISL-PTA diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar regional dan membuka peluang investasi lebih luas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong kelanjutan Indonesia-Sri Lanka Preferential Trade Agreement (ISL-PTA) melalui perundingan putaran ketiga. Langkah tersebut dapat memperbesar peluang ekspor Indonesia ke pasar Asia Selatan.

Budi menyampaikan hal itu pascapertemuan dengan Menteri Tenaga Kerja sekaligus Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan Sri Lanka, Anil Jayantha Fernando. Pertemuan tersebut berlangsung di Jakarta, Rabu, 16 September 2026.

“Kami membahas sejumlah upaya untuk meningkatkan perdagangan antara Indonesia dan Sri Lanka. Salah satunya adalah dengan melanjutkan ISL-PTA melalui perundingan putaran ketiga,” ujar Budi.

Indonesia dan Sri Lanka meluncurkan perundingan ISL-PTA pada 14 Maret 2024. Putaran pertama perundingan berlangsung secara daring pada 3-4 April 2024.

Putaran kedua perundingan digelar di Kolombo, Sri Lanka, pada 15-16 Juli 2024. Sri Lanka kini melakukan reviu internal terhadap ISL-PTA sebagai bagian dari kelanjutan perundingan.

Anil menyampaikan Sri Lanka berharap proses reviu internal ISL-PTA dapat segera diselesaikan. Ia berharap proses tersebut dapat mendorong terwujudnya perdagangan yang lebih terbuka dan kuat antara kedua negara.

Sri Lanka juga berencana mengirim delegasi untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. TEI tersebut akan berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.

Dalam rangkaian TEI 2026, Sri Lanka juga berencana menyelenggarakan forum investasi. Sri Lanka mengharapkan pelaku usaha Indonesia, Kementerian Perdagangan RI, serta peserta TEI dapat berpartisipasi dalam forum tersebut.

Pada pertemuan itu, Sri Lanka turut menyampaikan ketertarikannya terhadap produk pupuk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestik. Menanggapi hal tersebut, Budi mendorong delegasi Sri Lanka memanfaatkan TEI untuk bertemu dengan pelaku industri pupuk Indonesia.

Budi berharap pertemuan delegasi Sri Lanka dengan pelaku industri pupuk Indonesia dapat membuka peluang kerja sama lebih konkret. Kerja sama tersebut diharapkan berkembang di sektor pupuk..

Pada Januari-Juli 2026, total perdagangan Indonesia dan Sri Lanka tercatat sebesar USD266 juta. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD244 juta dan impor sebesar USD22 juta.

Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD530,2 juta. Ekspor Indonesia tercatat sebesar USD476,7 juta dan impor sebesar USD53,5 juta, sehingga Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD423,1 juta.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke Sri Lanka mencakup kopra, mobil dan kendaraan bermotor untuk angkutan orang, produk setengah jadi besi/baja nonpaduan. Komoditas lainnya meliputi asam lemak monokarboksilat industri, minyak asam, alkohol lemak industri, serta tembakau mentah dan sisa tembakau.

Sementara itu, komoditas utama impor Indonesia dari Sri Lanka mencakup kain rajutan, minyak bumi dan minyak mineral bitumen, mesin untuk mengolah tembakau. Indonesia juga mengimpor beragam produk ban dari Sri Lanka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....