Tak Sekadar Ditambang, Mineral Indonesia Didorong Jadi Penggerak Industri

  • 15 Sep 2026 00:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hilirisasi mineral menjadi strategi utama untuk mengubah kekayaan tambang Indonesia menjadi produk bernilai tambah dan penggerak industri nasional.
  • Sepanjang 2025, Grup MIND ID membukukan pendapatan Rp159,46 triliun dan memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak, PNBP, dan dividen sebesar Rp92,56 triliun.
  • Pesan utama: Mineral Indonesia tidak sekadar ditambang, tetapi harus menjadi sumber nilai tambah, penggerak industri, dan fondasi kemandirian ekonomi nasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kekayaan mineral Indonesia didorong tidak hanya berhenti sebagai komoditas hasil tambang. Melalui hilirisasi, sumber daya mineral diharapkan mampu menjadi penggerak industri, menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing nasional.

Komitmen tersebut terus didorong Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Kedua perusahaan berupaya mengelola kekayaan mineral Indonesia agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional.

Corporate Secretary ANTAM, Wisnu Danandi Haryanto, mengatakan perjalanan mineral tidak seharusnya berakhir ketika sumber daya tersebut berhasil ditambang. Menurutnya, nilai yang lebih besar justru tercipta ketika mineral diolah menjadi produk bernilai tambah.

"Bagi ANTAM, setiap mineral memiliki perjalanan, mulai dari mine, kemudian diolah menjadi value, dan pada akhirnya harus memberikan meaning. Artinya, sumber daya mineral Indonesia harus mampu mendorong industri dan perekonomian, membuka peluang bagi masyarakat, sekaligus tetap dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan," kata Wisnu dalam sosialisasi MediaMIND 2026 di Gedung Science Techno Park Universitas Indonesia.

Ia mengatakan, hilirisasi bukan sekadar membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian. Hilirisasi harus mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.

Menurut Wisnu, pengolahan mineral dapat mendukung pengembangan berbagai industri strategis. Selain itu, hilirisasi juga dapat menarik investasi, mendorong transfer teknologi, serta menggerakkan pertumbuhan ekonomi di daerah.

Transformasi tersebut terlihat pada pengembangan komoditas bauksit dan nikel. Bauksit dapat diolah menjadi alumina hingga aluminium yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi bahan baku berbagai sektor industri.

Sementara itu, nikel dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah untuk mendukung penguatan industri nasional. Termasuk, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

"Hilirisasi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian melalui tumbuhnya rantai pasok baru, investasi, transfer teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga berkembangnya industri pendukung," kata Wisnu.

Ia menegaskan, keberhasilan industri pertambangan tidak hanya diukur dari jumlah komoditas yang dihasilkan. Namun, juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.

"Ukuran keberhasilan pertambangan bukan hanya apa yang dapat dihasilkan hari ini, tetapi juga manfaat yang dapat kita tinggalkan bagi masyarakat, lingkungan, dan generasi mendatang," ucap Wisnu.

Senada, Department Head Corporate Communication MIND ID, Pratiwa Dyatmika, mengatakan hilirisasi menjadi bagian penting dalam membangun industri nasional yang lebih kuat dan mandiri.

"Hilirisasi menjadi bagian penting untuk memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah yang semakin besar di dalam negeri. Pertambangan bukan hanya mengenai komoditas yang dihasilkan, tetapi bagaimana kekayaan mineral tersebut dapat memperkuat industri, mendukung kemandirian nasional, serta memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi turut menopang kinerja Grup MIND ID. Sepanjang 2025, Grup MIND ID membukukan pendapatan sebesar Rp159,46 triliun.

Selain itu, Grup MIND ID memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan dividen dengan total mencapai Rp92,56 triliun. Transformasi industri pertambangan, lanjut Pratiwa, juga tidak hanya berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi.

Aspek sosial dan lingkungan menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat pertambangan dapat dirasakan secara berkelanjutan. Hingga 2025, Grup MIND ID telah menanam lebih dari 7,48 juta pohon serta mereklamasi lebih dari 7.800 hektare lahan.

Melalui hilirisasi dan pengelolaan pertambangan yang berkelanjutan, kekayaan mineral Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi komoditas hasil tambang. Mineral Indonesia didorong menjadi fondasi pengembangan industri sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....