Biogas Perkuat Ketahanan Energi dan Kurangi Pencemaran.

  • 19 Jun 2026 12:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Biogas sebagai energi baru terbarukan mulai mendapat perhatian dalam pembahasan isu energi nasional Indonesia. Pemanfaatannya dinilai mendukung pencapaian target Net Zero Emissions sesuai kesepakatan Paris Agreement tahun 2015.

Ketua Asosiasi Biogas Indonesia (ABgI), Muhammad Abdul Kholiq, mengatakan perhatian terhadap biogas terus meningkat belakangan ini. Menurutnya, perkembangan tersebut terjadi jauh sebelum munculnya konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Kholiq menjelaskan keunggulan biogas terletak pada pengolahan limbah organik menjadi sumber energi terbarukan yang bermanfaat. Teknologi tersebut mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan.

“Pengolahan limbah organik, a.l. limbah pabrik kelapa sawit atau POME, limbah pabrik tapioka, dan limbah organik lainnya. Menjadi biogas berarti pengurangan beban pencemaran lingkungan, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan energi terbarukan.”

Biogas dari digester skala kecil memanfaatkan bahan baku berupa kotoran ternak dan berbagai limbah organik. Energi yang dihasilkan umumnya digunakan sebagai bahan bakar kompor untuk kebutuhan rumah tangga warga.

Sementara itu, biogas skala industri dapat dimanfaatkan sebagai pengganti gas alam maupun batu bara. Pemanfaatannya mencakup pembangkit listrik, co-firing, hingga produksi BioCNG atau compressed biomethane untuk berbagai kebutuhan.

Melalui pola co-firing, pabrik kelapa sawit dapat mengurangi penggunaan cangkang sawit sebagai bahan bakar. Cangkang yang tersisa dapat dipasarkan ke pasar domestik maupun global sebagai komoditas bernilai ekonomi.

Pemanfaatan biogas sebagai BioCNG dilakukan melalui proses pemisahan karbon dioksida dari kandungan biogas tersebut. Hasil akhirnya berupa biomethane yang memiliki karakteristik serupa dengan gas alam konvensional.

Karena komponen utama gas alam adalah metana, biomethane dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia. Sistem distribusi, fasilitas, serta tata niaganya dapat menggunakan mekanisme seperti gas alam.

Asosiasi Biogas Indonesia bersama mitra dan pemangku kepentingan aktif menyosialisasikan potensi pengembangan teknologi biogas. Kegiatan tersebut bertujuan memperluas pemahaman mengenai manfaat dan praktik penerapan biogas di Indonesia.

Dari sisi bahan baku, Indonesia memiliki potensi biogas yang sangat besar untuk dikembangkan. Namun pemanfaatannya masih terbatas dibandingkan ketersediaan sumber limbah organik yang melimpah di berbagai daerah.

Saat ini terdapat sekitar seribu pabrik kelapa sawit yang beroperasi di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, baru sekitar sepuluh persen atau kurang memiliki instalasi pengolahan biogas.

Potensi bahan baku juga berasal dari limbah industri tapioka dan berbagai sektor agro lainnya. Selain itu tersedia limbah pertanian, kotoran ternak, serta sampah organik rumah tangga dan pasar.

Beberapa negara telah mengembangkan teknologi biogas skala kecil secara luas dan berkelanjutan. China, India, dan Nepal menjadi contoh negara dengan penerapan digester biogas yang berkembang.

“Kita boleh bangga telah membangun 45-50 ribuan digester biogas. Namun India menargetkan pembangunan 60 ribuan digester biogas dalam satu tahun,” kata Kholiq.

Untuk biogas skala besar, penerapannya berkembang pesat di berbagai negara kawasan Eropa. Jerman, Austria, dan Belanda menjadi contoh negara dengan pemanfaatan biogas yang maju.

“Di Jerman para pengelola instalasi biogas sampai berebut mendapatkan bahan baku berupa limbah organik. Mereka bahkan menanam jagung untuk disimpan sebagai persediaan bahan baku reaktor biogas,” ujarnya.

Menurut Kholiq, pengembangan biogas di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Salah satunya adalah fokus pelaku industri sawit yang lebih mengutamakan produksi minyak sawit.

Tantangan lainnya mencakup lokasi pabrik yang jauh dari jaringan listrik dan keterbatasan operator. Kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola instalasi biogas juga masih perlu ditingkatkan.

Meski demikian, tren pengembangan biogas dinilai semakin positif dalam beberapa tahun terakhir. Tuntutan sertifikasi industri ramah lingkungan menjadi salah satu faktor pendorong utama perkembangan tersebut.

“Teknologi biogas adalah bentuk pengolahan limbah organik yang paling efektif dan efisien,” ujar Kholiq. Menurutnya, pengolahan limbah menjadi syarat penting memperoleh sertifikasi lingkungan dari pasar internasional.

Kholiq menegaskan pengembangan biogas membutuhkan penguatan ekosistem serta sinergi yang berkelanjutan antarpihak terkait. Pemerintah, industri, lembaga pembiayaan, akademisi, peneliti, dan media harus bekerja sama lebih erat.

“Untuk pengembangan biogas di Indonesia perlu penguatan ekosistem dan sinergi antar pihak,” tegasnya. Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk mempercepat penerapan biogas secara lebih masif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....