Indonesia Perluas Sinergi Industri BRICS, Pacu Transformasi Manufaktur
- 08 Agt 2026 08:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan Indonesia memperluas sinergi industri BRICS untuk mempercepat transformasi manufaktur nasional.
- Kerja sama BRICS diarahkan untuk membuka peluang investasi, inovasi, perdagangan, dan penciptaan lapangan kerja melalui kolaborasi industri.
- Forum The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers di Jaipur, India membahas prioritas kerja sama industri BRICS melalui BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR).
RRI.CO.ID, Jaipur - Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Indonesia memperluas sinergi industri BRICS untuk mempercepat transformasi manufaktur nasional. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membuka peluang investasi, inovasi, perdagangan, serta penciptaan lapangan kerja melalui kolaborasi industri.
Faisol menyampaikan hal tersebut dalam The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers di Jaipur, India. Forum tersebut membahas berbagai prioritas kerja sama industri BRICS melalui BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR).
“Indonesia memandang BRICS sebagai wadah strategis untuk memperkuat kerja sama yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan industri. Melalui kemitraan ini, kami ingin memastikan transformasi industri membuka peluang yang lebih luas,” ujar Faisol dalam keterangannya, Jumat, 7 Agustus 2026.
Sektor manufaktur Indonesia memberikan kontribusi lebih dari 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada triwulan pertama 2026. Sektor tersebut menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 82 persen total ekspor nasional.
“Kinerja tersebut memperkuat posisi Indonesia untuk berkontribusi dalam berbagai kerja sama industri BRICS. Sekaligus memperluas keterlibatan industri nasional dalam rantai nilai global,” kata Faisol.
Dalam forum tersebut, pembahasan difokuskan pada empat bidang, pengembangan UMKM industri, startup, logistik industri, dan industri panel surya. Keempat bidang tersebut memiliki keterkaitan erat dalam membangun ekosistem industri yang tangguh, adaptif terhadap perubahan teknologi, dan berkelanjutan.
Pada bidang UMKM industri, Indonesia memaparkan program peningkatan akses pembiayaan, adopsi teknologi, pengembangan SDM industri, perluasan akses pasar. Langkah tersebut bagian dari strategi agar Industri Kecil dan Menengah semakin terhubung dengan rantai nilai regional maupun global.
IKM mencakup hampir 99,8 persen unit usaha industri di Indonesia dan menyerap sekitar 65 persen tenaga kerja. IKM juga memberikan kontribusi lebih dari 21 persen terhadap nilai tambah manufaktur nonmigas.
Pengembangan ekosistem inovasi industri turut menjadi bagian kontribusi Indonesia dalam kerja sama BRICS melalui program Startup4Industry. Program tersebut telah menghubungkan lebih 2.500 startup dengan pelaku industri, investor, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam pengembangan BRICS Incubator Network dan BRICS Startup Knowledge Hub. Sebagai sarana kolaborasi inovasi, investasi, dan pengembangan teknologi di antara negara anggota,” ucap Faisol.
Pada bidang industri panel surya, Indonesia memaparkan pengembangan industri tersebut sebagai bagian transformasi menuju industri rendah karbon. Pengembangan tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat rantai pasok energi bersih.
Sementara itu, Indonesia memperkenalkan pemanfaatan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) pada sektor logistik industri. Sistem tersebut mengintegrasikan data industri untuk meningkatkan efisiensi perencanaan, memperlancar arus logistik, dan memperkuat ketahanan rantai pasok manufaktur.
Selain empat bidang prioritas, Indonesia melihat peluang memperluas kerja sama BRICS pada industri hijau, semikonduktor, dan industri agro. Ketiga bidang tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan industri sekaligus meningkatkan daya saing manufaktur.
“Ketiga bidang ini memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan industri sekaligus meningkatkan daya saing manufaktur di masa depan. Indonesia siap menjajaki kerja sama lebih konkret melalui berbagai Working Group PartNIR sesuai dengan prioritas dan kepentingan nasional,” ujar Faisol.
Keikutsertaan Indonesia dalam The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers melanjutkan kontribusi Indonesia dalam kerja sama industri BRICS. Kontribusi tersebut mencakup penyusunan arah kebijakan hingga implementasi berbagai program kolaborasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....