Industri Kemasan Plastik Tertekan Pelemahan Rupiah dan Krisis Pasokan Bahan Baku

  • 03 Jun 2026 16:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lebih dari 50 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional masih bergantung pada impor
  • Pelemahan rupiah meningkatkan biaya bahan baku karena transaksi impor menggunakan dolar AS
  • Krisis geopolitik di Timur Tengah memperpanjang waktu pengiriman bahan baku hingga tiga kali lipat

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Promosi dan Kemitraan Indonesian Packaging Federation (IPF) Hari Noegroho mengatakan pelemahan rupiah berdampak besar terhadap industri kemasan plastik. Menurutnya, pasokan bahan baku plastik domestik masih sangat terbatas sehingga ketergantungan impor tetap tinggi.

Hari menjelaskan lebih dari 50 persen kebutuhan bahan baku produk berbasis plastik masih dipenuhi impor. Ia menyebut bahan seperti PE, PP, dan PET masih banyak didatangkan dari luar negeri.

“Sekitar ada lebih dari 50% khususnya untuk produk-produk yang berbasis plastik, seperti PE, PP, kemudian PET misalnya. Dan kalau import kan kita menggunakan dolar, kalau exchange rate-nya saat ini rupiah melemah tentunya akan sangat berpengaruh terhadap biaya,” katanya di pembukaan International Industrial Week di JIEXPO Kemayoran, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Hari, transaksi impor menggunakan dolar sehingga pelemahan rupiah meningkatkan biaya pengadaan bahan baku. Kondisi tersebut dinilai membebani harga pokok produksi pelaku industri hilir kemasan nasional.

Ia mengatakan pelaku industri membutuhkan dukungan pemerintah untuk mengurangi tekanan yang sedang dihadapi. Selain harga bahan baku meningkat, ketersediaan barang juga menjadi persoalan serius saat ini.

Hari menyebut krisis geopolitik di Timur Tengah menyebabkan jalur logistik global menjadi jauh lebih panjang. Waktu pengiriman yang biasanya berlangsung 15 hingga 20 hari kini mencapai 50 hingga 60 hari.

“Dengan adanya krisis geopolitik di Timur Tengah, Selat Hormuz ini jalur logistik dunia ini menjadi sangat panjang. Bisa 2-3 kali lipat lebih lama, biasanya 15-20 hari sekarang bahkan bisa 50-60 hari,” ucapnya.

Ia menilai tantangan industri tidak hanya berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah semata. Ketersediaan bahan baku juga menurun sehingga memperberat kondisi industri kemasan berbasis plastik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....