MASKEEI: Masa Depan Energi Indonesia Tak Bisa Hanya Bergantung Pembangkit Baru
- 30 Mei 2026 10:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) menilai masa depan energi nasional tidak cukup mengandalkan pembangunan pembangkit baru. Organisasi tersebut mendorong penguatan konservasi dan efisiensi energi guna menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional jangka panjang.
Ketua Umum MASKEEI, Andhika Prastawa mengatakan pembahasan energi selama ini lebih berfokus pada aspek pasokan dibanding konsumsi.
Menurutnya, efisiensi energi pada sektor gedung dan transportasi masih belum menjadi perhatian utama kebijakan nasional.
"Terlihat bicara isu energi hanya bicara dari sisi supply, menghadirkan suplai energi di Indonesia. Akan tetapi sisi demand tidak banyak dibahas sehingga perilaku masyarakat masih cenderung boros memanfaatkan energi," ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu, 30'Mei 2026.
Andhika menilai ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik Timur Tengah, berpotensi memengaruhi stabilitas sektor energi dunia.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat strategi konservasi energi untuk menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan nasional.
Menurutnya, konservasi energi bukan sekadar program penghematan, melainkan bagian penting menjaga keberlanjutan energi nasional mendatang.
Langkah tersebut dinilai semakin relevan ketika kebutuhan energi meningkat sementara ketergantungan terhadap energi fosil masih tinggi.
"Saat ini kita masih bergantung dengan sumber energi fosil meskipun pemanfaatan EBT mulai terus berkembang. Kita tidak bisa terus membangun pembangkit baru atau menghadirkan energi yang dipenuhi melalui impor," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal MASKEEI, Arya Rezavidi, menyoroti tingginya konsumsi energi nasional saat ini. Ia mengingatkan keseimbangan antara pasokan dan konsumsi energi telah diamanatkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007.
"Undang-Undang Energi mengatur keseimbangan supply dan demand yang harus dijaga dalam pengelolaan energi nasional. Namun, konsumsi energi Indonesia sangat tinggi sehingga pemerintah harus bekerja keras menyediakan kebutuhan energi," ujarnya.
MASKEEI menilai keberhasilan konservasi energi membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat secara bersama-sama.
Perubahan perilaku menjadi faktor penting untuk membangun budaya hemat energi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Selain perubahan perilaku, MASKEEI melihat sektor pembiayaan memiliki peran penting mendukung program efisiensi energi nasional. Keberadaan usaha jasa konservasi energi atau ESCO kini didukung regulasi yang memberikan kepastian hukum usaha.
Andhika menambahkan sejumlah negara maju telah menjadikan konservasi energi sebagai bagian penting strategi pembangunan nasional. Menurutnya, Indonesia perlu menempatkan efisiensi energi sebagai agenda utama demi mencapai keberlanjutan energi masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....