Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Butuh Mesin Baru, Tak Hanya dari Konsumsi

  • 07 Agt 2026 03:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Amin Ak menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen tergolong tangguh, namun masih menyimpan kerentanan struktural.
  • Ia menyoroti pola pertumbuhan yang masih terlalu bergantung pada konsumsi rumah tangga musiman (Ramadan dan Idulfitri) serta penurunan daya beli kelas menengah.
  • Anggota Komisi XI DPR RI ini mendesak percepatan reformasi struktural dengan menggeser mesin ekonomi menuju peningkatan produktivitas, manufaktur, dan investasi produktif.

RRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 yang mencapai 5,29 persen secara tahunan menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Meski lebih tinggi dari proyeksi mayoritas ekonom, angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2026 sebesar 5,61 persen.

Amin mengatakan perlambatan tersebut bukan merupakan tanda krisis, tetapi mencerminkan masih adanya persoalan mendasar dalam struktur pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, ketergantungan terhadap konsumsi rumah tangga membuat laju ekonomi mudah dipengaruhi faktor musiman.

“Penurunan ini bukanlah sinyal krisis, melainkan menunjukkan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar,” ujar Amin dalam keterangannya, Kamis, 6 Agustus 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada triwulan I-2026, konsumsi terdorong momentum Ramadan, Idulfitri, dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), namun melambat menjadi sekitar 5,06 persen pada triwulan II setelah efek musiman berakhir.

Belanja pemerintah juga mengalami perlambatan signifikan dari 21,81 persen menjadi 15,97 persen. Kondisi tersebut turut menahan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dan memperlihatkan perlunya sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Amin menilai Indonesia harus mengurangi ketergantungan pada konsumsi rumah tangga dengan memperkuat investasi, sektor manufaktur, dan ekspor bernilai tambah. Menurutnya, transformasi tersebut penting agar ekonomi tidak terus berfluktuasi mengikuti pola konsumsi musiman.

“Selama konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama, perekonomian nasional akan terus naik-turun mengikuti musim. Melonjak saat ada momen belanja besar, lalu melambat begitu momentum tersebut berakhir,” katanya.

Ia juga menyoroti dua tantangan utama yang masih membayangi perekonomian, yakni melemahnya daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, serta belum optimalnya transformasi industri. Tanpa peningkatan produktivitas dan kualitas investasi, pertumbuhan ekonomi dinilai akan sulit melampaui kisaran 5 persen.

Kajian LPEM FEB Universitas Indonesia juga menunjukkan perlambatan triwulan II dipengaruhi berakhirnya efek Ramadan dan Idulfitri, melemahnya konsumsi, tingginya harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya produksi. Lembaga tersebut menekankan pentingnya memperkuat produktivitas agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada stimulus konsumsi.

Di sisi lain, Amin menyambut positif pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi yang mencapai 6,87 persen, tertinggi dalam satu tahun terakhir. Capaian itu dinilai menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih terjaga.

“Indonesia membutuhkan fondasi pertumbuhan yang lebih seimbang, yaitu konsumsi yang kuat, investasi yang produktif, industri yang kompetitif, dan ekspor yang bernilai tambah,” tegas Amin.

Ia menambahkan, pemerintah perlu memastikan percepatan investasi produktif, penguatan sektor manufaktur, hilirisasi industri bernilai tambah tinggi, serta perluasan ekspor produk berdaya saing. Menurutnya, reformasi struktural harus terus dijalankan secara konsisten agar Indonesia mampu mencapai target sebagai negara berpendapatan tinggi menuju Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....