Proyeksi Kemenkeu dan BI, Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2026 di atas 5 Persen

  • 03 Mei 2026 21:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 pada Selasa, 5 Mei 2026
  • Proyeksi Kementerian Keuangan, pertumbuhan ekonomi pada triwulaI I 2026 sebesar 5,5 persen
  • Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 sebesar 5,4 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 pada Selasa, 5 Mei 2026. Perekonomian Indonesia diprakirakan masih tumbuh di atas 5 persen.

“Proyeksi Kementerian Keuangan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I ini sebesar 5,5 persen,” kata Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung pekan ini dalam acara dialog ‘Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI)” yang diselenggarakan Bank Indonesia. Proyeksi tersebut salah satunya ditopang oleh kinerja penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPN BM).

“Kalau kita lihat rincian pajak yang tumbuh di APBN 2026 adalah PPN dan PPN BM yang tumbuh tinggi 57,7 persen,” ucap Juda Agung. Menurutnya, pertumbuhan tinggi dua jenis pajak tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi, baik konsumsi maupun di sektor industri.

“PPN dan PPN BM jelas digunakan untuk konsumsi, transaksi pembelian barang. Baik barang ritel maupun barang untuk dunia usaha,” ujar Juda.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah mengubah pola belanja yang diupayakan merata di setiap triwulan. Di triwulan I belanja pemerintah ditargetkan 21 persen, triwulan II,III dan IV sekitar 26 persen.

“Tujuannya supaya pertumbuhan ekonomi lebih merata. Upaya percepatan belanja juga mendorong konsumsi masyarakat masih dalam trend meningkat,” kata Juda Agung lagi.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 sebesar 5,4 persen. “Disrupsi ekonomi global ikut mempengaruhi perekonomian dalam negeri, karenanya Indonesia harus memiliki daya tahan yang lebih kuat,” kata Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti.

Menurutnya, paling tidak dalam dua bulan belakangan ini makin mempertegas bahwa Indonesia harus memperkuat perekonomian domestiknya. “Karena sebenarnya perekonomian Indonesia itu adalah domestic economic oriented, dengan konsumsi menyumbang 54 persen dan investasi 30 persen,” kata ujar Destry.

Salah satu langkah yang dilakukan BI untuk lebih memperkuat perekonomian di dalam negeri adalah dengan mempercepat intermediasi. Yaitu mempercepat penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan ke sektor-sektor perekonomian yang produktif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....